Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryOct 11, '06 12:01 AM
for everyone

Ahad, 8 0ktober 2006

Baru saja usai santap sahur bareng Butet, mataku mendadak mencermati ponsel dan teringat Seli menantuku. Kemarin sepanjang hari kami menemaninya, potret-potret dan berharap betul dia lahiran hari itu sebab kami tengah berkumpul ria.

"Seli, kudoakan, kudoakan..." gumamku membatin, masih kucermati ponselku dengan pikiran tetap kepada menantuku yang solehah (sesuai namanya).

Sms masuk!

Segera kusambar ponsel hadiah dari Butet itu, kubaca; "Ma, Seli udah keluaran flek nih. Doain yah." Dari Haekal.

Buru-buru kubalas: "Cepat dibawa ke rumahsakit saja, hubungi dokter Dewi-nya."

"Iya, ini Seli masih mau makan dulu..."

Kutelepon langsung, terdengar suara Seli yang tenang dan menahan tawa. "Ada apa, Ibuku sayang? Seli masih mau makan udlu nih..."

"Yeeeh... buruan makannya atuh. Lagian udah, jangan puasa dulu yah. Mau lahiran tuh!" perintahku agak gegetun.

Kutahu Seli tetap menunaikan ibadah shaumnya sejak hari pertama. Segera kuminta Butet bersiap-siap. "Ayo, Nak... kita sholat subuh dulu, ya. Udah itu langsung ke rumah Seli," seruku mendadak agak panik dengan deburan jantung yang mulai tak karuan. Emang udah bengkak lagee, hehehe...

"Biar Butet bayari naik taksi deh, Ma!" kata Butet begitu kami agak lama nunggu angkot di pagi hari di jalan Raya Tole Iskandar. Aku manut saja, kutahu uang sakunya selama bulan puasa hampir tak pernah dipakai.

Taksi pun meluncur ke kawasan Kukusan, RSIA Graha Permata Ibu yang belum lama diresmikan oleh Nurmahmudi. Kami dapati Seli sudah diperiksa seorang bidan bermarga Simbolon.

"Kami gak merekomendasikan untuk langsung dirawat. Masih lama, belum ada pembukaan."

Meskipun demikian Haekal dengan agak ngotot tetap memesan kamar. Karena di depan mendengar hari ini lagi rame orang melahirkan. Maka, kami pun kembali ke rumah Seli dengan catatan nanti sekitar pukul sepuluh akan balik lagi untuk diperiksa.

"Mama balik dulu, ah, Butet mo ngapalin nih," bujuk Butet. "Besok ada ulangan banyak."

"Kenapa gak mau pulang sendiri sih?" aku agak mengomelinya. "Gimana mo kuliah di luar... manja banget kamu!"

Kami pun pulang ke kampung Cikumpa. Sekitar pukul satu Haekal sms lagi. Katanya, kali ini ada lumayan banyak air mengucur... Woooaaa, jangan-jangan itu air ketuban!

Aku kembali merasa agak panik, segera meluncur lagi ke rumah sakit Permata Ibu. Kudapati kali ini Seli sudah dirawat di kamar Anggrek 2. Sudah ada pembukaan dua, katanya. Dari saat ke saat, kucoba untuk menenangkan diriku sendiri. Padahal kulihat Seli tenang-tenang saja. Bahkan ibunya belum muncul, nanti menyusul, katanya.

Sekitar pukul empat datang bidan, mau memberinya induksi melalui infusan. Seli setengah hati menerimanya. Bidan mengatakan, air ketuban sudah mulai banyak keluar, sebaiknya diberi induksi untuk merangsang pembukaan.

Nah, selang kemudian... kuliah Seli mulai merasai akibatnya!

"Ini belum seberapa, jangan kaget yah... Nanti mulas-mulasnya akan semakin menghebat," kata bidan muda.

"Emang adik sudah pernah melahirkan?" selidikku penasaran.

"Eee... belum sih, Bu. Cuma pengalaman lihat pasien aja," sahutnya tersipu malu.

Benar saja, sejak itu, pukul empat mulas-mulasnya semakin sering. Lebih menghebat lagi sejak pukul lima, secara terus-menerus kontraksinya datang semakin sering, semakin menghabat dan berlangsung lama. Kulihat Seli mulai kewalahan, kadang dia hanya mengucap; "Allahu Akbar... Allahu Allahu Allahu..."

Airmataku mengembang, bahkan terus bercucuran manakala kulihat menantuku semakin tersiksa. Aku pun terharu dan berbaur dengan panik melihat bagaimana Seli kian kesakitan. Sementara Haekal memeluknya, kadang enciumi kening dan mengusap-usap permukaan perutnya. Menyaksikan pasustri muda yang begitu bahu-membahu dalam kondisi tak menentu begitu... hatiku sungguh terharu sekali!

Dua kali melahirkan dan tiga kali keguguran, aku selalu sendirian, eeh... Di mana ayah anakku saat-saat kritisku? Entahlah!

Tepat beduk maghrib, aku tak tahan lagi melesat ke ruang perawat. Bercucuran air mata kusampaikan laporanku kepada mereka yang sedang tajil. Aku sendiri sampai lupa untuk berbuka puasa.

"Mohon maaf, sungguh maafkan saya yah... Saya tak tahan lagi melihat menantuku kesakitan. Tolong dilihat dulu, mungkin sudah banyak pembukaannya, sudah harus dibawa ke ruang tindakan," ujarku tersendat-sendat, separuh mengerang separuh gemetar bahna paniknya.

"Baik, Bu... kita periksa dalam lagi, ya," sahut seorang bidan muda. Selang kemudian diketahuilah Seli sudah pembukaan 7-8. Menunggu petugas untuk mengangkutnya ke ruang tindakan sungguh membuat jantungku berdebaran. Rasanya lama sekali!

"Dokter Dewi-nya di mana?" tanyaku sambil mengiring brankar.

"Lagi di jalan, Bu..."

Sejak masuk ruang tindakan, kuserahkan kepada Haekal. Beberapa waktu terdengar erang kesakitan Seli semakin pilu, semakin menghebat. Rasanya setiap kudengar erang kesakitan dari mulutnya, serasa nyeri dan sakit itu langsung menghantam diriku sendiri. Ya Allah, aku mulai lemaaaaaas, tubuhku serasa lungkraaah...

"Nah... syukurlah datang, silakan menemani di dalam!" sambutku ketika besanku akhirnya muncul.

"Iya, iya, Bu... biar saya saja yang di dalam," sahut ibu dari lima anak itu.

Satu jam berlalu secara terus-menerus kudengar erang kesakitan. Kulihat sesekali, kulongok sekilas ke dalam. Kupikir, Seli sedang mengejan, tapi ternyata bidan tak memperbolehkannya mengejan. Padahal bayi di dalam sudah kepingin mborojoool, tapi harus ditahan. Ya Allah, bagaimana ini urusan?

Dalam panik itu, sempat-sempatnya aku lari ke wartel di seberang rumah sakit, menelepon ibuku. Kumohon doanya, kumohoooon... masih sambil bercucuran air mata hingga penjaga wartel menanyaiku, apakah aku baik-baik saja?

Gema adzan isya pun terdengar dari mesjid sebelah. Detik itulah aku menengadahkan kedua tangan sambil bercucuran air mata: "Ya Allah, saya mohon kepadamu Ya Rob... Kasihanilah Seli, kasihanilah mantuku yang solehah ini. Tolong, kuatkan Seli, ya Robb... Permudahlah dia melahirkan... Permudahkan pula perjalanan dokter Dewi..."

Katanya dokter Dewi yang dihubungi bidan, masih di Jalan Margonda...

Rasanya aku meracau, entah apa saja yang kuminta, intinya aku sudah tak tahan lagi melihat Seli kesakitan. Andaikan bisa, biarkanlah rasa sakitnya pindah ke tubuhku...

Akhirnya dokter Dewi muncul dari lift. Dari balik pintu ruang bersalin, aku dan Ima, salah seorang adik Seli yang juga setia menemaniku, sama-sama berdoa. Kudengar Seli mengejan, ini puncaknya, pikirku...

Ya Allah, kuatkan mantuku, kuatkan dia... tak putus aku menyeru nama-Nya.

Tiba-tiba sedetik serasa hening, maka... woaaa...woaaa... woooaaaa...

"Allahu Akbaaaar!" aku dan Ima serempak menyeru takbir.

Kulihat besanku Bapak Ahmad Engkos Kosasih yang juga duduk tegang mendengar suara bayi itu. Aku dan Ima saling berpelukan, bersimbah airmata, kulihat besanku pun mengucurkan airmatanya. Aku dan Ima segera bersujud syukur di sudut ruang tunggu itu. Begitu ada celah masuk ke dalam, aku pun melesat, kusaksikan bidan membersihkan bayi itu... Ya Allah, subhanallah, bayi merah yang melengking-lengking heboh itu... cucuku!

Aku mengabadikannya dengan ponsel, merekam suara tangisnya, gerakannya sampai dipopoki, dibedong. Dan diadzani oleh putraku, Haekal.

"Kamu sekarang menjadi seorang ayah, Nak," kuciumi kening putraku. "Jadilah ayah yang bertanggung jawab, sayang anak-istri ya Nak... Mama doakan kalian dilimpahi rezeki oleh Allah," aku meracau lagi sembari memelukinya.

Hari Ahad, 8 0ktober 2006 pukul 19.45, telah lahir bayi laki-laki beratnya 3,4 kg, tingginya 50 cm. Bersih dan... miriiiiip ayahnya, Haekal Siregar juga identik dengan kakeknya Hamdan Siregar. Subhanallah, alhamdulillah... terimakasih Ya Allah... Anugerah-Mu ini sungguh membuncahkan kami kebahagiaan tak teperi.

"Namanya... ayo, tepatnya siapa?" tanyaku menatap Haekal yang masih tak henti-hentinya mengagumi makhluk mungil di lengannya itu.

"Ahmad Zein Rasyid..."

"Siregar!" sambung Seli.

Kulihat ada ketaksetujuan di wajah Haekal. "Alaaah... nanti gak diaku pula," cetusnya seperti menahan kepedihan."Padahal ini mah anak Haekal da, iih, Haekal mah ngaku pisan, hehehe... Rugi banget atuh gak ngaku mah, ikutan capek dan tegang tadi tuh," ceracaunya sambil mengekeh aneh, perpaduan antara haru dan bahagia.

"Pssst, jangan begitu, Bang. Dengan atau tanpa Siregar... itu tampangnya emang mbatak begitu kok. Mo gimana lagi?" tambah Seli.

Aku menundukkan kepala, entah mengapa mendadak teringat kembali saat-saat dulu ketika pertama kali memeluk Haekal kecil. Segala kepedihan seakan-akan hendak jebol dari bendungannya. Tidak, ya Allah... sudahilah segala dukalara itu.

Dan selamat datang Kebahagiaan!

Selamat datang, Cucuku; Zein...

Inilah duniamu...

Kudoakan engkau menjadi anak yang soleh...

Menjadi tegar...

Menjadi takwa...

Menjadi mujahid...

Limpahan Cinta dan Bahagia dari nenekmu, ayahmu, bundamu, buyutmu... tante-tantemu, paman-pamanmu...

Mohon doanya pula ya Sodara-sodaraku yang dimuliakan Allah.

Yang berbahagia; Pipiet Senja, Haekal, Seli dan keluarga besar.

 

 


67 CommentsChronological   Reverse   Threaded
thetrueideas wrote on Oct 11, '06, edited on Oct 11, '06
selamet ya teh..eh nek..:-)
pipietsenja wrote on Oct 11, '06
iya nih...bahagianya menjadi nenek
nini teteh, katanya euy...uuuhhh... Ya Allah... anugerah ini, luar biasa!
kpuspita wrote on Oct 11, '06
Selamat Bunda eh..Yangti (eyang putri).....:)
Moga Zein menjadi sholeh, anugrah cinta bagi islam, ortu dan sesama
pipietsenja wrote on Oct 11, '06
alhamdulillah....terimakasih ya puspita...
nini aja katanya kan teteh mah orang sunda
yang ti mah dari jowo yah?
albirru wrote on Oct 11, '06
aduh.. teteh.. seneng bgt bacanya. berasa bgt kebahagiaan teteh dan kehangatan di keluarga teteh. Alhamdulillah teh, segala pengorbanan teteh melewati kebekuan hati saat ngelahirin Haikal begitu manis terbayar. Hiks.. terharuuuuu. Semoga Zein dilimpahi kasih sayang oleh Allah semua kerabat dan berkah hidupnya hingga akhir.
pipitta wrote on Oct 11, '06
selamat ya nin pipit.. *hugs* semoga cucunya selalu sehat dan menjadi seperti yang diharapkan nin.. :)
fetryz wrote on Oct 11, '06
Alhamdulillah... Barakalloh buat mas Haekal, teh seli, sama semuanya......

Wilujeng teh pit.... sekarang udah jadi eyang...

manggilna naon teh??? emih?? eni? eyang???

^_^
woro2 wrote on Oct 11, '06
limpahan cinta dan bahagia dari tantemu yang cantik ini ya, zein...

*hihihi... ngaku2 dikit gapapa ya, teh!!*

bintarie wrote on Oct 11, '06
Selamat teteh, semoga teteh menjadi nenek yang tidak terlalu memanjakan cucu...kikikik, apalagi cucu pertama, dan semoga cucunya menjadi anak yang sholeh ya teh....Amin.
shaphira wrote on Oct 11, '06
Selamat ya bu Pipiet, semoga jadi anak yang sholeh. Salam buat Selly+Haekal dan p'Engkos dan keluarga
pipietsenja wrote on Oct 11, '06
naaah... ketahuan yah...mimin teh geuningan si banget-bangeeeet
iya nih aku buahagiaaaa buangeeeet (istilahnya mas haikal dkk)
amin ya robbul alamin
makasih nian doamu yah
semoga dimakbulkan Allah Swt
pipietsenja wrote on Oct 11, '06
iya bu dosen...
seli dan haekal waktu kutingal kemarin
gak henti2nya mengagumi tuh si zein
haekal bilang: "Ayo, sekarang mah kita hbiskan waktu buat mengaguminya. Nah, entar klo udah beberapa bulan... kita rencanakan, mo diapain nih anak!"
hihi...ada2 aja!
pipietsenja wrote on Oct 11, '06
iya nih
padahal sempet kubilang seli; nanti mama mah gak mau digerecokin ngasuh cucu, aaah...sibuuuk!
hihi...sekarang aja aku malah kepingin terbang nih ke rumahnya
masih di kantor daku
peduli wrote on Oct 11, '06
Teteh, selamat ya atas kelahiran cucunya, semoga Zein menjadi anak yg sholeh, amiin :)
yaniar wrote on Oct 11, '06
Selamat jadi nenek, ya? :D
pipietsenja wrote on Oct 11, '06
terimakasih mbak lia, terimakasih...
pipietsenja wrote on Oct 11, '06
amin allahuma amiiiiin
makasih doamu ya dek
pipietsenja wrote on Oct 11, '06
iya atuh tante tata (ini istilahnya butet, singkatan dari tante jelita, hihi, narciiiis!)
pipietsenja wrote on Oct 11, '06
kayaknya sih nini we atuh aaah...
mmm...nini teteh kali yeeeh
kayaknya tazkiya tuh, putrinya mbak mimin
klo aku lewat rumahnya dia teriakin daku; Nini Teteeeeeh...
pipietsenja wrote on Oct 11, '06
iya pipitta...
blom diperiksa darahnya tuh
karena haekal pembawa gen thalassemia juga, carieeeeer...apa geto
semoga si Zein kuat2 saja
rikaadinda wrote on Oct 11, '06
alhamdulillah.. selamat ya nek... semoga menjadi cucu yang solehah...
rikaadinda wrote on Oct 11, '06
eh salah.. sholeh kekeke...
sya2 wrote on Oct 11, '06
Membaca cerita ini seakan mengingatkanku saat proses2 kelahiran dulu.. Selamat ya Teh Pipiet.. semoga cucnya menjadi anak sholeh..amiin...
ianaja wrote on Oct 11, '06
nini teteh. sapaan yg lucu! selamat juga ya, teh?
inimona wrote on Oct 11, '06
Barakallah teteh.....jadi nini ya....
barakallah juga buat ayah&bunda nya zein ( kyk nama temenku ^_^ )...
semoga menjadi anak sholeh....
inimona wrote on Oct 11, '06
"Siregar!" sambung Seli.
Kulihat ada ketaksetujuan di wajah Haekal. "Alaaah... nanti gak diaku pula," cetusnya seperti menahan kepedihan."Padahal ini mah anak Haekal da, iih, Haekal mah ngaku pisan, hehehe... Rugi banget atuh gak ngaku mah, ikutan capek dan tegang tadi tuh," ceracaunya sambil mengekeh aneh, perpaduan antara haru dan bahagia.
"Pssst, jangan begitu, Bang. Dengan atau tanpa Siregar... itu tampangnya emang mbatak begitu kok. Mo gimana lagi?" tambah Seli.
ayah mona orang BATAK dan SIREGAR pula...
tapi Subhanallah.....Baiiikkkkkk sekali....
fediandina wrote on Oct 11, '06
selamat yah teteh nini .... selamat juga buat kedua orang tua, semoga semua donya terkabul jadi anak yang soleha.
orinkeren wrote on Oct 11, '06
Subhanallah, turut senang........... semoga anak soleh menjadi qurata ayun (penyejuk mata bagi kedua orang tuanya) yang senantiasa rukun berkasih sayang selamanya dalam naungan hidayah dan petunjuk Allah. amiin.
dala98 wrote on Oct 11, '06
Selamat teh.Semoga jadi cucu soleh.
lienott wrote on Oct 11, '06
Subhanallah... Teh Piet, selamat ya... ambu dan abah turut bahagia untuk Teh Piet, Haekal, Seli, Butet dan seluruh keluarga. Semoga Zein menjadi anak sholeh, penyejuk hati dan mata orang tuanya. Amien.
mbakari wrote on Oct 11, '06
Selamat atas kenaikan pangkatnya jadi "Nini Teteh". Semoga Zein jadi anak yang soleh dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Juga semoga Seli cepat sembuh dan selalu berada dalam lindunganNya. Peluk Teh Pipiet....
armansyah wrote on Oct 11, '06
Alhamdulillaah wa syukurilaah..
Selamat Datang, Zein..
insyaAllah kau tumbuh sehat selalu
jadi ummatNya yang sholeh
jadi sumber 'cahaya' buat Nini, Ayah, Bunda & Nini-nya..
aamiiin..aamiiin ya Rabb Al Amiin....

nb. buat Seli.. semoga dimudahkan ASI eksklusif-nya buat Zein :-)
enniarief wrote on Oct 11, '06
Selamat ya teh Piet,
Jadi juga Eyang Puteri. Eeh......Nini Teteh geuningan. Mugi2 Zein dijantenkeun anak anu sholeh sareng taqwa ka Gusti Allah. Atuh meureunan abdi teh jadi oo...maa....whooaaa.........
dwitrazaky wrote on Oct 11, '06
Selamat Teh....barokallah ya punya cucu sekarang, semoga bisa jadi pejuang ,penerus orangtuanya.Amiin...
danida82 wrote on Oct 11, '06
Barakallah ya Nini Teteh..Haekal...Seli & keluarga besar, whii jadi Nini Teteh nih ye...jadi penasaran pengen liat fotonya:)
dialogkecil wrote on Oct 11, '06
Alhamdulillah. Selamat ya Teh Nini. Saya jadi merinding ngebayangin anak saya melahirkan nanti:(
maryamilyas wrote on Oct 11, '06
Selamat datang, Cucuku; Zein...

Inilah duniamu...

Kudoakan engkau menjadi anak yang soleh...

Menjadi tegar...

Menjadi takwa...

Menjadi mujahid...

Limpahan Cinta dan Bahagia dari nenekmu, ayahmu, bundamu, buyutmu... tante-tantemu, paman-pamanmu...
Amin...amin...
Banjir di sini Teh... hiks! Sudah dua kali saya melahirkan, alhamdulillah keduanya diberi kemudahan dan selalu ditemani suami. Itu saja rasanya sudah, ya Allah...
Saya selalu kagum dengan orang-orang yang tetap tabah dalam kesulitan melahirkan. Semoga Allah melimpahkan berkah dan mencuci dosa-dosanya.
Barakallahu buat keluarga besar Teteh yang berbahagia...

duniaintan wrote on Oct 11, '06
Teteh, selamat ya? Aku juga turut merasakan kebahagian Teteh. Salam u Seli dan Keluarga. Semoga bahagia selalu
mamanyadafi wrote on Oct 11, '06
Selamat berbahagia buat Teteh, Haekal dan Seli juga keluarga disana. Mudah2an si kecil Zein membawa rizki banyak banyak dan menjadi anak yang qurrata'ayun. Amin.
bundaghani wrote on Oct 12, '06
Selamat berbahagia.....semoga doa yang sudah teteh ungkapkan terkabul....
putrikhalisa wrote on Oct 12, '06
Selamat teh piet ,semoga ananda zein menjadi anak yg sholeh
adhejauza wrote on Oct 12, '06
whoaaaa :O
punten ya ni', adhe baru tau. jadi terlambat banget nih ucapin selamatnya.
salam juga buat orangtua yang sedang berbahagia. semoga semua selalu sehat, bertambah bahagia atas kelahiran zein. aamiin..
90mbel wrote on Oct 13, '06
Selamat ya teh....semoga kelak sang cucu menjadi anak yang sholeh, berbakti kepada kedua orang tua, agama, nusa dan bangsa...dan selalu dicurahi rahmat dan kebahagiaan oleh Allah SWT...Amin
pipietsenja wrote on Oct 15, '06
dan menjadi nini yang solehah juga, hihi...
makasiiiiiih
pipietsenja wrote on Oct 15, '06
amin ya robbulalamiiin
terimakasih atas doamu yang tulus ya dinda
terimakasih dan salaaaam
pipietsenja wrote on Oct 15, '06
yeee...adhe...
abisnya dikau gak dateng pas bazaar di yayasan tempohari
bu wati malah baru tauk klo daku ini sudah menikahkan anak
kali klo belom mo dicariin pasangannya, hiihihi
makasih dhe sayang
pipietsenja wrote on Oct 15, '06
iya tuh si zein kerjanya sekarang minta asi mulu
kasian juga ngeliat seli
sampe lecet-lecet katanya tuh..
opppsss... ini rahasia ibu-ibu muda ya...woahahaha
pipietsenja wrote on Oct 15, '06
amin ya robbul alamiiin
terimakasih dinda
salam manisku buat anak-anak yang menggemaskan itu..duuuh lucunyaaa!
pipietsenja wrote on Oct 15, '06
amin allahuma amiiin
terimakasih dinda sudah mendoakan dan sering mampir ke rumahmayaku ini
salam manisku untuk keluargamu
pipietsenja wrote on Oct 15, '06
amiiiin...alooow...ini di aceh ya? lhok nga kah?
salam manisku dinda
pipietsenja wrote on Oct 15, '06
iya...yang ajaibnya, begitu si Zein sudah diebrikan dan dalam dekapan Seli
iseng kutanya dia;"Fiaman tuh rasanya melahirkan? Masih mau melahirkan lagi?"
"Insya Allah...kalau Allah berkenan, tahun depan mau lagi," sahutnya kalem.... whoaaaa...
pipietsenja wrote on Oct 15, '06
iya nih indahnya menjadi nini
whooooi...aku wara-wiri mengabari kebahagiaan ini kepada teman-teman dekatku
dan kulihat wajah mereka ikuta bersukacita
seperti yang kurasai
pipietsenja wrote on Oct 15, '06
fotonya masih terperngkap di ponselku nih
nanti sore kan kucari gerai digital
terimakasih ya deeek
pipietsenja wrote on Oct 15, '06
alhamdulillah...
dinda sudah kuterima pula kirimanmu, terimakasih
jazakallah khairon khatsira
semoga Allah memberi limpahan rejekimu
amin
Comment deleted at the request of the author.
Comment deleted at the request of the author.
Comment deleted at the request of the author.
Comment deleted at the request of the author.
Comment deleted at the request of the author.
pipietsenja wrote on Oct 16, '06
amiiiinnnnn
iya dikau teh sekarang mah menjadi Omah atuh, En!
makanya ulah ganjen deui nya, hihihihi...
memoarmu bikin aku gregetan nih...
sabaaar
semoga akhir bulan ini kelar
doakan yah, doakan
pipietsenja wrote on Oct 16, '06
iya tuh emang seli kepingin menunaikan amanahnya termasuk Asi eklsusif
sepanjang malam nyaris gak tidur yang haripertama sampai seminggu
sambil dia gak tahu kudu berbuat apa yang terbaik bagi bayinya
pipietsenja wrote on Oct 16, '06
naik pangkat yah...
umurku udah separo abad nih dinda
aku jadi bertambah saudara dan kelan yang berhati tulus
seperti dirimu dan mbak rini
terimakasih dinda
titupan kasihmu telah sampadan sangat bermanfaat bagi diriku dan anak
terimakasih
semoga Allah melimpahimu banyak rezeki
oya...gak mudik tahun ini?
pipietsenja wrote on Oct 16, '06
syukurlah dinda...
mohon maaf yah...
menyesal juga halak hita yang terdekat dengan kami sebaliknya
its oke...biarlah Allah yang akan memberi kesempatan
fiyahenti wrote on Oct 16, '06
Selamat ya Teh, sekarang dah jadi nini neh. Moga Zein menjadi anak yang soleh. Sekarang panggilnya gimana ya? Teteh pipiet? apa Nini Pipiet? he he he
lailanurhayati wrote on Oct 20, '06
alhamdulillah...barakallah ya....selamat ya:) oga mjd anak yg shaleh n bguna tuk agama, negara n bangsa.wah...deg2an jg neh baca kisahnya.Nanti daku gmn ya?Mohon doanya jg ya:)
pipietsenja wrote on Oct 23, '06
boleh nini teteh sajalah neng...
makasih sudah mampir yah
salam manisku dan si zein
pipietsenja wrote on Oct 23, '06
waaa... jangan begitu neng
semua orang memiliki jalannya sendiri
kudoakan dikau berbahagia
Add a Comment