Ahad, 8 0ktober 2006
Baru saja usai santap sahur bareng Butet, mataku mendadak mencermati ponsel dan teringat Seli menantuku. Kemarin sepanjang hari kami menemaninya, potret-potret dan berharap betul dia lahiran hari itu sebab kami tengah berkumpul ria.
"Seli, kudoakan, kudoakan..." gumamku membatin, masih kucermati ponselku dengan pikiran tetap kepada menantuku yang solehah (sesuai namanya).
Sms masuk!
Segera kusambar ponsel hadiah dari Butet itu, kubaca; "Ma, Seli udah keluaran flek nih. Doain yah." Dari Haekal.
Buru-buru kubalas: "Cepat dibawa ke rumahsakit saja, hubungi dokter Dewi-nya."
"Iya, ini Seli masih mau makan dulu..."
Kutelepon langsung, terdengar suara Seli yang tenang dan menahan tawa. "Ada apa, Ibuku sayang? Seli masih mau makan udlu nih..."
"Yeeeh... buruan makannya atuh. Lagian udah, jangan puasa dulu yah. Mau lahiran tuh!" perintahku agak gegetun.
Kutahu Seli tetap menunaikan ibadah shaumnya sejak hari pertama. Segera kuminta Butet bersiap-siap. "Ayo, Nak... kita sholat subuh dulu, ya. Udah itu langsung ke rumah Seli," seruku mendadak agak panik dengan deburan jantung yang mulai tak karuan. Emang udah bengkak lagee, hehehe...
"Biar Butet bayari naik taksi deh, Ma!" kata Butet begitu kami agak lama nunggu angkot di pagi hari di jalan Raya Tole Iskandar. Aku manut saja, kutahu uang sakunya selama bulan puasa hampir tak pernah dipakai.
Taksi pun meluncur ke kawasan Kukusan, RSIA Graha Permata Ibu yang belum lama diresmikan oleh Nurmahmudi. Kami dapati Seli sudah diperiksa seorang bidan bermarga Simbolon.
"Kami gak merekomendasikan untuk langsung dirawat. Masih lama, belum ada pembukaan."
Meskipun demikian Haekal dengan agak ngotot tetap memesan kamar. Karena di depan mendengar hari ini lagi rame orang melahirkan. Maka, kami pun kembali ke rumah Seli dengan catatan nanti sekitar pukul sepuluh akan balik lagi untuk diperiksa.
"Mama balik dulu, ah, Butet mo ngapalin nih," bujuk Butet. "Besok ada ulangan banyak."
"Kenapa gak mau pulang sendiri sih?" aku agak mengomelinya. "Gimana mo kuliah di luar... manja banget kamu!"
Kami pun pulang ke kampung Cikumpa. Sekitar pukul satu Haekal sms lagi. Katanya, kali ini ada lumayan banyak air mengucur... Woooaaa, jangan-jangan itu air ketuban!
Aku kembali merasa agak panik, segera meluncur lagi ke rumah sakit Permata Ibu. Kudapati kali ini Seli sudah dirawat di kamar Anggrek 2. Sudah ada pembukaan dua, katanya. Dari saat ke saat, kucoba untuk menenangkan diriku sendiri. Padahal kulihat Seli tenang-tenang saja. Bahkan ibunya belum muncul, nanti menyusul, katanya.
Sekitar pukul empat datang bidan, mau memberinya induksi melalui infusan. Seli setengah hati menerimanya. Bidan mengatakan, air ketuban sudah mulai banyak keluar, sebaiknya diberi induksi untuk merangsang pembukaan.
Nah, selang kemudian... kuliah Seli mulai merasai akibatnya!
"Ini belum seberapa, jangan kaget yah... Nanti mulas-mulasnya akan semakin menghebat," kata bidan muda.
"Emang adik sudah pernah melahirkan?" selidikku penasaran.
"Eee... belum sih, Bu. Cuma pengalaman lihat pasien aja," sahutnya tersipu malu.
Benar saja, sejak itu, pukul empat mulas-mulasnya semakin sering. Lebih menghebat lagi sejak pukul lima, secara terus-menerus kontraksinya datang semakin sering, semakin menghabat dan berlangsung lama. Kulihat Seli mulai kewalahan, kadang dia hanya mengucap; "Allahu Akbar... Allahu Allahu Allahu..."
Airmataku mengembang, bahkan terus bercucuran manakala kulihat menantuku semakin tersiksa. Aku pun terharu dan berbaur dengan panik melihat bagaimana Seli kian kesakitan. Sementara Haekal memeluknya, kadang enciumi kening dan mengusap-usap permukaan perutnya. Menyaksikan pasustri muda yang begitu bahu-membahu dalam kondisi tak menentu begitu... hatiku sungguh terharu sekali!
Dua kali melahirkan dan tiga kali keguguran, aku selalu sendirian, eeh... Di mana ayah anakku saat-saat kritisku? Entahlah!
Tepat beduk maghrib, aku tak tahan lagi melesat ke ruang perawat. Bercucuran air mata kusampaikan laporanku kepada mereka yang sedang tajil. Aku sendiri sampai lupa untuk berbuka puasa.
"Mohon maaf, sungguh maafkan saya yah... Saya tak tahan lagi melihat menantuku kesakitan. Tolong dilihat dulu, mungkin sudah banyak pembukaannya, sudah harus dibawa ke ruang tindakan," ujarku tersendat-sendat, separuh mengerang separuh gemetar bahna paniknya.
"Baik, Bu... kita periksa dalam lagi, ya," sahut seorang bidan muda. Selang kemudian diketahuilah Seli sudah pembukaan 7-8. Menunggu petugas untuk mengangkutnya ke ruang tindakan sungguh membuat jantungku berdebaran. Rasanya lama sekali!
"Dokter Dewi-nya di mana?" tanyaku sambil mengiring brankar.
"Lagi di jalan, Bu..."
Sejak masuk ruang tindakan, kuserahkan kepada Haekal. Beberapa waktu terdengar erang kesakitan Seli semakin pilu, semakin menghebat. Rasanya setiap kudengar erang kesakitan dari mulutnya, serasa nyeri dan sakit itu langsung menghantam diriku sendiri. Ya Allah, aku mulai lemaaaaaas, tubuhku serasa lungkraaah...
"Nah... syukurlah datang, silakan menemani di dalam!" sambutku ketika besanku akhirnya muncul.
"Iya, iya, Bu... biar saya saja yang di dalam," sahut ibu dari lima anak itu.
Satu jam berlalu secara terus-menerus kudengar erang kesakitan. Kulihat sesekali, kulongok sekilas ke dalam. Kupikir, Seli sedang mengejan, tapi ternyata bidan tak memperbolehkannya mengejan. Padahal bayi di dalam sudah kepingin mborojoool, tapi harus ditahan. Ya Allah, bagaimana ini urusan?
Dalam panik itu, sempat-sempatnya aku lari ke wartel di seberang rumah sakit, menelepon ibuku. Kumohon doanya, kumohoooon... masih sambil bercucuran air mata hingga penjaga wartel menanyaiku, apakah aku baik-baik saja?
Gema adzan isya pun terdengar dari mesjid sebelah. Detik itulah aku menengadahkan kedua tangan sambil bercucuran air mata: "Ya Allah, saya mohon kepadamu Ya Rob... Kasihanilah Seli, kasihanilah mantuku yang solehah ini. Tolong, kuatkan Seli, ya Robb... Permudahlah dia melahirkan... Permudahkan pula perjalanan dokter Dewi..."
Katanya dokter Dewi yang dihubungi bidan, masih di Jalan Margonda...
Rasanya aku meracau, entah apa saja yang kuminta, intinya aku sudah tak tahan lagi melihat Seli kesakitan. Andaikan bisa, biarkanlah rasa sakitnya pindah ke tubuhku...
Akhirnya dokter Dewi muncul dari lift. Dari balik pintu ruang bersalin, aku dan Ima, salah seorang adik Seli yang juga setia menemaniku, sama-sama berdoa. Kudengar Seli mengejan, ini puncaknya, pikirku...
Ya Allah, kuatkan mantuku, kuatkan dia... tak putus aku menyeru nama-Nya.
Tiba-tiba sedetik serasa hening, maka... woaaa...woaaa... woooaaaa...
"Allahu Akbaaaar!" aku dan Ima serempak menyeru takbir.
Kulihat besanku Bapak Ahmad Engkos Kosasih yang juga duduk tegang mendengar suara bayi itu. Aku dan Ima saling berpelukan, bersimbah airmata, kulihat besanku pun mengucurkan airmatanya. Aku dan Ima segera bersujud syukur di sudut ruang tunggu itu. Begitu ada celah masuk ke dalam, aku pun melesat, kusaksikan bidan membersihkan bayi itu... Ya Allah, subhanallah, bayi merah yang melengking-lengking heboh itu... cucuku!
Aku mengabadikannya dengan ponsel, merekam suara tangisnya, gerakannya sampai dipopoki, dibedong. Dan diadzani oleh putraku, Haekal.
"Kamu sekarang menjadi seorang ayah, Nak," kuciumi kening putraku. "Jadilah ayah yang bertanggung jawab, sayang anak-istri ya Nak... Mama doakan kalian dilimpahi rezeki oleh Allah," aku meracau lagi sembari memelukinya.
Hari Ahad, 8 0ktober 2006 pukul 19.45, telah lahir bayi laki-laki beratnya 3,4 kg, tingginya 50 cm. Bersih dan... miriiiiip ayahnya, Haekal Siregar juga identik dengan kakeknya Hamdan Siregar. Subhanallah, alhamdulillah... terimakasih Ya Allah... Anugerah-Mu ini sungguh membuncahkan kami kebahagiaan tak teperi.
"Namanya... ayo, tepatnya siapa?" tanyaku menatap Haekal yang masih tak henti-hentinya mengagumi makhluk mungil di lengannya itu.
"Ahmad Zein Rasyid..."
"Siregar!" sambung Seli.
Kulihat ada ketaksetujuan di wajah Haekal. "Alaaah... nanti gak diaku pula," cetusnya seperti menahan kepedihan."Padahal ini mah anak Haekal da, iih, Haekal mah ngaku pisan, hehehe... Rugi banget atuh gak ngaku mah, ikutan capek dan tegang tadi tuh," ceracaunya sambil mengekeh aneh, perpaduan antara haru dan bahagia.
"Pssst, jangan begitu, Bang. Dengan atau tanpa Siregar... itu tampangnya emang mbatak begitu kok. Mo gimana lagi?" tambah Seli.
Aku menundukkan kepala, entah mengapa mendadak teringat kembali saat-saat dulu ketika pertama kali memeluk Haekal kecil. Segala kepedihan seakan-akan hendak jebol dari bendungannya. Tidak, ya Allah... sudahilah segala dukalara itu.
Dan selamat datang Kebahagiaan!
Selamat datang, Cucuku; Zein...
Inilah duniamu...
Kudoakan engkau menjadi anak yang soleh...
Menjadi tegar...
Menjadi takwa...
Menjadi mujahid...
Limpahan Cinta dan Bahagia dari nenekmu, ayahmu, bundamu, buyutmu... tante-tantemu, paman-pamanmu...
Mohon doanya pula ya Sodara-sodaraku yang dimuliakan Allah.
Yang berbahagia; Pipiet Senja, Haekal, Seli dan keluarga besar.