
Assalamualaiku wr.wbb
Kepada kontributor kumpulan kisah inspirasi dan Lomba Surat Untuk Presiden yang diselenggarakan oleh majalah IQRO serta didukung Dompet Dhuafa Hong Kong tahun yang lalu, berikut adalah isi bukunya yang diberi judul: SURAT BERDARAH UNTUK PRESIDEN. Daftar Isi i. Prolog: Sastri Bakry ii. Sekapur Sirih: Abdul Ghofur Bab I : Hong Kong Negeri Seribu Kisah BMI 1.Surat Berdarah Untuk Presiden (Jaladara) 2.Ibarat Kaca Benggala (Nadia Cahyani) 3.Rumah Singgah Penuh Barokah (Ratu Bilqis) 4.Ramadhan Dalam Ikhlas (Juwana Azza) 5.Terima Kasih Peri Kehidupan (Yuni Shandriya) 6. Kembali Kepada Petunjuk-Mu (Rihanu Alifa) 7. Cinta Kita Tak Bermakna (Kienza Fiona) 8. Suatu Hari Surga di Telapak Kaki Ibuku (Anna Ilham) 9. Kumaknai Setiap Langkah di Negeri Beton (Kine Risty) 10.Jalan Menuju Cinta-Mu (Widya Arum) 11.Inilah Ibu Sekarang, Nak! (Dede Matim-Macau) 12.Di Hong Kong Kuuntai Cita dan Asa (Riris Asmaria) 13.Kembang Desa Sandang Ratu Babu (Eka Prasetya) 14.1001 Cinta di Negeri Naga (Aisyah Dian) 15.Perempuan Perkasa yang Bersahaja (Bayu Insani) 16.Giok Terakhir Jembatan Panjang (Indira Margareta) 17.Jika Hati Ikhlas (Neng Rinrin) 18.Tak Usah Takut Bersuara (Etik Wijaya) 19.Takkan Kugadai Imanku Demi Apapun (Ilma Maqhia) 20.Ampunilah Aku, Tuhan! (Ani Ramadhanie) 21.Sepanjang Jalan Shanghai Airmata Berlinang (Mega Vristian) Bagian 2: Surat-Surat Untuk Presiden 1. Dengarkanlah Suara Hati Kami (Muntamah Cendani) 2. Kunjungilah Kami! (Indri Marga) 3. Banyak Cerita Kecil Untukmu (Kurnengsih) 4. Tolehlah Kami Barang Sejenak (Sarah Rahman) 5. Kemanakah Gerangan Dana Asuransi Itu? (Yuli Duryat) 6. Aku Ingin Berharap, Cintaku! (Afkar Fauziyatorrohmah) 7. Mari Teriakkan Suara Kita, Saudariku! (Siti Aminah) 8. Kami Sangat Mengharap Perhatianmu, Pak! (Ida Raihan) 9. Kami Juga Anakmu, Bapak (Lia Budiarti) 10.Dari Korupsi, Manipulasi Hingga Video Seks (Bertha Siagian) 11.Masihkah Bisa Tidur Lelap? (Alif Hanura) 12.Hapuskan Terminal Tak Manusiawi Itu! (Siti Homsah) 13.Adakah Sekolah Gratis di Indonesia? (Risna) 14.Bukan Hobi Kami Menjadi TKI (Lilis Lisnawati-Taiwan) 16.Izinkan Aku Curhat, Pak! (Anna Nirwana) 17.Surat Dari Negeri Formosa (Alif Indarti-Taiwan) 18. Majulah Bangsaku Bangkitlah Generasiku (Kiswatul Mafudhoh) Spesial kepada anak-anakku di Hongkong, Macau dan Taiwan, Ini saya umumkan sebagai revisi daftar isi buku Surat Berdarah Untuk Presiden. Ada dua penulis yang kurang dari pengumuman sebelumnya, ya, maafkan...sueeeerrr.....maafkan lahir batin, ya. Alhasil para penulisnya total 39 orang, nah, kalau ditambah teteh dan Uni Sastri Bakri jadi 41 orang, ya.... Plus Sekapur Sirih dari Ustaz Abdul Ghofur, Direktur Dompet Dhuafa Hong Kong. Manini jadi paciweuh sendiri neh, alamak, sungguh, maafkan lahir batin jika aa salah-salah tulis, salah-sakah kata, salah-salah ucap. Yang sempurna hanya Allah Swt. Nah, sekarang sudah lengkap, insya Allah. Salam manis dan bahagia, ya, mmmhuuuaaa.... Ngok cungi lei, kayau! Pipiet Senja Harga Rp.42.000 Bisa pesan via SMS: 065669185619 Jika datang langsung ke Toko Buku Zikrul Hakim, Jalan Waru 20 B Rawamangun, Jakarta timur, diskon 20%. Ayo, buruan, jangan sampai kehabisan!
Sebelumnya sungguh saya mohon maaf sebesar-besarnya atas keterlambatan cetak buku yang sudah kita tulis sekitar setahun yang lalu, mungkin lebih (?) kalau tak salah, ya, rekan-rekan yang disayang Allah. Setelah saya tinggal jalan ke mana-mana, termasuk ke ruang ICU RSCM berbulan-bulan, bahkan jalan ke Hongkong-Macau dan China, bedeuh.... hebohan jadinya dakuw yah! Inikah buku terlama yang dikreasi saya? Oh, bukan, masih ada lagi beberapa....hehehe! Namun, demikianlah proses panjang itu, ternyata membuahkan hikmah; nikmatnya menjadi seorang penulis. Semoga buku ini akan best seller. Karena isinya memang sangat menyentuh, menginspirasi kaum perempuan juga bapak-bapak, mereka yang ingin memiliki keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Silakan dibeli dan disebarkan muatan hikmah di dalamnya; Selamat!
Endorsementnya sbb; Tiba-tiba tiba aku menemukan kenangan indah terbungkus dalam tas lusuh itu. Kehangatan mengalir dari serat-serat yang terjalin kala menyentuh kulitku. Seketika kurasai tubuhku menggigil. Di dalamnya kutemukan selembar kertas dengan tulisan tangan tinta cair, semua hurufnya rebah ke kanan. Seakan menunjukkan tunduk dan setia nan tiada batas. Tulisan ibuku. Ada kesan, garis-garis huruf sambung itu ditulis dengan tangan gemetaran. Aku merasai gigilan itu semakin menghebat serta menghajar telak sekujur tubuhku. Kabur pandanganku menatap beras yang teronggok dalam kantung kusam, stagen dan gelas putih berlekuk yang dibungkus rapi dengan koran berlapis-lapis demi melindungi dari benturan. Ibuku mengemasnya dengan teliti agaknya. Walaupun kutahu harganya murah tapi tidak mudah bagi Ibu. Semua itu adalah hal terbaik yang Ibu berusaha berikan untukku. Ibu yang menggendong sekarung beras itu, hasil menanam dan memanen dengan tangannya sendiri itu, sampai pintu rumahku. Inilah suara hati perempuan Indonesia, baik yang bermukim di pelosok kampung, kota, metropolitan maupun di mancanegara. Sebuah antologi fragmen dalam sejarah kehidupan perempuan. Secara keseluruhan isi buku ini merupakan kisah-kisah perempuan yang tegar, berani melawan ketakadilan, tidak cengeng dan pantang menyerah, meskipun dihantam gelombang badai yang tiada henti menggerus dalam kehidupannya. Berikut adalah komposisi isi buku Duhai Muslimah Bersyukurlah; I. Prolog: Duhai, Muslimah Bersyukurlah (Pipiet Senja-Depok) 1. Duhai, Ibu Sayang (Titik Kartitiani-Jakarta) 2. Tuhan Beri Aku Kekuatan (Fawwdia Krisna-Hong Kong) 3. Cantik Hingga Akhir (Diana-Depok) 4. Karena Istri Shalihah (Anneke Puteri-Cibubur) 5. Catatan Hati Istri Prajurit (Nina Hery Setiady-Yogyakarta) 6. Pelangi Hatiku (Nadia Cahyani-Hong Kong) 7. Badai Telah Berlalu (Niswa Maqhia Ilma-Hong Kong) 8. Perempuan Setia (Kinoysan-Jakarta) 9. Menuju Negeri Sakura (Ina Wasanawati-Jepang) 10. Emak Yang Hebat (Gola Gong-Serang) 11. Kisah Cinta Indah (Siti Chalimah-Hong Kong)
12. Tak Ingin Seperti Lilin (Diansya-Semarang)
13. Kamar Hati Indri (Bahril Hidayat Lubis-Pekanbaru) 14. Menjawab Tantangan (Rini Badriah-Bandung) 15. Kesabaran yang Menguatkan (Dhian Onasis-Jakarta) 16. Bukan Pernikahan Cinderella (Zahratul Jannah-Depok) 17. Demi Cinta (Rosita Sembiring-Prancis) 18. Derisna, Airmata Papua (Tandi Skober-Cirebon) 19. Misteri Kado Cinta (Kit Rose-Jakarta) 20. Selamat Jalan, Kekasih (Deapati-Makassar)
Mohon kepada nama-nama tersebut di atas untuk (sekali lagi) mengirimkan alamat lengkap serta nomer kontaknya kepada saya via SMS: 085669185619 atau boleh juga di komentar ini. Anda akan mendapatkan fee dan satu eksemplar buku masing-masing. Sekali lagi, saya mohon maaf, ya Rekans, terimakasih atas kerjasamanya dan Selamat! Salam manis dan bahagia Pipiet Senja (Penyunting)
Ini kisah anak manusia yang nelangsa sepanjang hayatnya...
Namanya Elly Joharneli, ketika bayi 1,5 tahun sudah diserahkan pengasuhannya kepada ibuku, (alm) Hajjah Siti Hadijah. Setelah besar disekolahkan sampai tamat SAA, sekolahnya asisten apoteker.
Saya dan enam saudara sudah menganggapnya sebagai kakak sendiri. Begitu menikah, kami masih sering curhatan dan tersambung. Dia memiliki dua anak; perempuan dan laki-laki.
Putrinya terbelakang meental, hanya sampai usia 13 tahun, dia dipanggil Sang Penciptanya. Sang anak terbelakang mental ini, tahu-tahu dditemukan telah mengambang di sungai Cikapundung, Bandung.
Setahun kemudian, suaminya menyusul ke pangkuan Sang Pencipta. Maka, Elly memutuskan pindah dari Bandung ke Labuan, Banten Ia membawa serta seorang anak laki-laki, Amin Jauhari.
Sejak itulah kehidupannya mengalami musibah. Sisa tabungannya diutang saudaranya sendiri yang seibu-seayah, dan tak dikembalikan.Banyak ditipu dan dirugikan.
Untuk menyekolahkan anaknya, ia buka warung, jual beras dan kebutuhan dapur. Sejak duduk di bangku SMA, maka saya pun memutuskan untuk mengambil Amin sebagai anak asuh, terutama dana pendidikannya rutin saya kirimi.
Saya mendapat bantuan dari sahabat-sahabat MP, antara lain; Kosirotun dan Elly Lubis, Laura Khalida, Shintalifa dari Jepang.Hingga Amin pun berhasil lulus dari bangku SMA-nya, alhamdulillah...
Sejak 10 bulan yang lalu, Amin yang sudah bekerja di Jakarta, terpaksa harus berhenti bekerja. Ibunya mendadak mengalami stroke, jatuh di kamar mandi dan lumpuh sebelah. Sejak itulah Amin merawatnya, seorang diri. Makan sehari-hari mengandalkan dari belas kasih warga sekitar.
Ketika saya dan anak-anak, mantu, menengoknya 2 April 2010, kami mendaoati pemandangan yang sangat memilukan. Ibunya Amin terkapar tak berdaya di atas kasur tanpa seprei, tergolek tak mampu duduk, sudah berbulan-bulan dalam keadaan deemikian, bicara pun tak bisa dipahami. Atap-atap, lelangitan rumahnya tiris semua, sehingga jika hujan turun air menggelontor tanpa bisa ditahan...Duhai, deritanya, sungguh tak mampu kutuliskan!
"Mau saya bawa ke alternatif saja, tapi gak ada uangnya," kesah Amin mengiris kalbu, siapapun yang mendengarnya. Ibunya hanya mampu menangis tanpa suara yang bisa dipahami. Badannya tinggal tulang berbalut kulit, usia 56 sudah seperti lansia....
Duhai, sahabat MPers yang dirakhmati Allah... Jika anda ada kelebihan rezeki, mohon dibantu saudara kita yang merana ini. Semoga rezeki anda akan berlimpah ruah, karena sedekah untuk orang yang sangat membutuhkan, dan doanya itu sungguh akan dimakbulkan Allah.
Ini nomer rekeningnya, atas nama ETTY HADIWATI BCA 7650311811 Mohon dismskan kepada saya, 085669185619
Semoga Allah Swt memberkahi anda semua, senantiasa.
Wassalam Pipiet Senja
Horee, setelah sekian lama terkendala oleh banyak proses teknis yang menghalangi, sekarang karya-karya tulis dari kedua anakku, yaitu Adzimattinur Siregar dan Haekal Siregar kini sudah bisa dibaca di Internet! Kamu cukup mampir ke alamat ini:
http://www.virtualxbook.com
.. dan daftarkan diri kamu disitu, gratis pula!
Nah, judul-judulnya antara lain, COOL.. MAN!, COVERBOY LEMOT, BUBBLE GUM, dan AMERIKA SIAPA TAKUT! oleh anakku gadisku si Butet (Zhizhi). Lalu ada KODENG: PETUALANGAN KE PULAU BAJAK LAUT, dan THE WAY OF LOVE oleh si sulung, Haekal Siregar. Semuanya bisa kalian baca dengan memilih beli versi online-nya, atau sewa bahkan yang gratisan! Kalaupun judul-judul yang kamu tertarik diatas hanya tersedia versi beli online dan sewa online-nya, harganya murah kok!
Contoh, buku "Coverboy Lemot" yang harga sewanya seminggu cuma Rp 1.200 perak! Murah kaaan?Ayo makanya jangan sungkan untuk mampir ya! Atau kalian bisa bergabung dengan klub baca buku secara online-nya Virtual XBook disini di http://virtualxbook.multiply.comSelamat membaca! Seperti kata pepatah, "Banyak jalan menuju Roma, banyak cara untuk membaca karya Pipiet Senja.".. Eh, itu sih pepatah karangan sendiri ya. Tapi benar kok maksud anjurannya. Bahwa sesuatu itu, selalu bisa dicapai asal banyak usaha. Termasuk dalam membaca buku!
Ya, mulai sekarang buku-buku karya Pipiet Senja & Family juga tersedia secara online..! Yang artinya, untuk bisa membaca, kalian tidak perlu susah-susah mencarinya di toko buku pelosok sekalipun bahkan sampai kapan pun akan selalu tersedia. Karena disini, tidak hanya cuma tempat untuk membeli buku, tapi kamu setelah membaca, juga bisa menyimpan bukunya! Sekarang membaca karya-karya Pipiet Senja bisa-- "Dimana Saja dan Kapan Saja" deh! Nah nama tempatnya adalah Virtual XBook. Alamatnya di:
http://www.virtualxbook.com
Untuk bisa membaca, caranya sangat gampang kok. Segampang menghitung 1 sampai 6..!
1. Kunjungi situs www.virtualxbook.com
2. Daftarkan diri kamu pada kotak USER LOGIN- jangan kuatir, Gratis kok!
3. Ikuti proses pendaftaran sampai selesai, lalu cek email-mu.
4. Kembali ke kotak USER LOGIN, masukkan email dan password yang sudah dibikin tadi
5. Klik icon BUKU untuk mencari judul-judul karya Pipiet Senja
6. Selesai membaca, bukumu secara otomatis tersimpan di LEMARI BUKU Virtual milik kamu sendiri..!
Kalau kalian belum tertarik untuk membeli, disini kalian juga bisa menyewa buku! Caranya juga gampang kok, ikuti saja petunjuk di dalam situs. Dari situ kalian bisa memilih untuk menikmati bacaanmu sesuai waktu yang kamu tentukan sendiri.
Jangan kecewa, dalam rangka menyambut bulan Ramadhan tahun 2009, sebentar lagi Virtual XBook akan menayangkan 32 judul lagi.. semuanya karya Pipiet Senja dan keluarga! Ayo, sampai ketemu disana ya!
Jangan lupa gabung juga disini:
http://virtualxbook.multiply.com 19 Maret 2009
kutitipkan suara hatiku untuk para peserta kampanye untuk para caleg negeriku untuk para pendukung parpol untuk para pengguna jalan protokol
setelah berbulan sepanjang jalan yang dilewati penuh dengan baliho, spanduk segede-gede raksasa
dengan janji-janji terumbar bak pecahan mitralyur menyerapah ke segala penjuru
dengan wajah-wajah mega raksasa ada yang melotot ada yang membelalak ada yang menor dengan lipstik menyala ada juga yang santun menatap sendu seakan terpaksa kudu maju
jujur saja sering mata ini sakit melihat wajah-wajah meraksasa sepanjang jalan ke mana pun kaki melangkah seribu janji yang diserapahkan selaksa sumpah yang diteriakkan sungguh bikin kuping panas sekaligus perus mulas
kita sama tahu betapa banyak anggota dewan yang terhormat dari berbagai partai nasional bahkan yang mengusung agama sekalipun mereka terjebak duniawi lantas tanpa malu-malu melahap duit yang bukan hak seolah tak pernah kenyang ratusan juta, bilangan milyar bahkan triliyunan diganyang dengan tenang
duhai, para caleg yang (merasa) terhormat duhai, para calon pemimpin yang (merasa) hebat
perkenankan kutitipkan suara hatiku suara hati anak jalanan suara hati anak negeri suara hati ibu-ibu suara hati anak sekolahan suara hati gelandangan suara hati buruh suara hati akar rumput
jika kelak anda menjadi anggota dewan jika kelak anda menjadi jajaran birokrat jika kelak anda menjadi pemimpin mohon lupakan jual beli lupakan dagang sapi lupakan korupsi lupakan mengacak-acak negeri lupakan melahap yang bukan hak
sebagaimana pernah anda janjikan pada masa-masa kampanye ini
Lihat ribut-ribut soal level gal level-nya antara si Keket dan si Soraya. Daku mesem-mesem saja. Euleuh, segitunya yah orang kalau lagi kumat sombong. Tapi segitunya juga yah, kalau orang merasa dilecehkan. Langsung reaktif, langsung lapor polda dan menderetkan timpengacara terkenal. Yah, namanya juga selebritis! Nah, aku jadi teringat beberapa kejadian yang sesungguhnya, jika dimasukkan ke hati, hihi...Bukan ke lain hati, ya! Ini bisa dikategorikan pelecehan martabat dan kehormatan. Huhuhu, tapi.... siapa dulu atuh yang melakoninya. Bukan artis, bukan selebritis. Yang melakoninya cuma diriku, yang nini-nini gaul tea...heuheu! Yang masih kuingat saja, nih. Suatu hari, lokasinya di terminal kedatangan Bandara Cengkareng. Aku baru turun dari pesawat SQ, bareng rombongan. Ada Gola Gong dan Fauzil Adhim. Karena Irwan Kelana sudah pulang dua hari lebih awal. Nah, waktu itu kami baru diundang sebagai pembicara oleh PPMI Kairo dan FLP, kerjasama dengan ICMI Mesir. Nah, di pesawat kurasai sakit kepala luar biasa. Mungkin ini dampak HB (takaran darah) yang sudah rendah. Kutaksir HB-ku tinggal 6 % gram Sampai bercucuran hebat air mata, pas pesawat mau turun. Membawa kepala keleyengan dan jetlag, langkahku seperti melayang-layang. Kami menunggu di bagian bagasi. Aku duduk saja dekat konter travel. sementara Gola Gong dan Fauzil Adhim mengurus bagasi. Tiba-tiba, muncul seorang petugas imigrasi. Tagname-nya masih kuingat jelas; Sutiyono. Melihat ke arahku, dia langsung berseru lantang: "TKW, ya? Kenapa di sini? TKW itu di terminal 3!" Aku tak paham. Jadi bungkam saja, sambil masih keleyengan kepala. Kelihatannya aku dianggap sombong, padahal statusku (menurutnya) cuma seorang TKW yang nyasar. Dia sudah hendak teriak-teriak lagi, matanya nyaris loncat. Gola Gong menghampiri kami. Demikian juga Fauzil Adhim, bergerak. "Kami baru pulang dari Mesir. Diundang Pak Dubes RI di sana...." "Duta budaya..." Entah apalagi yang dikatakan kedua rekanku. Yang jelas itu petugas ngeloyor saja. Tanpa minta maaf, mungkin baginya sungguh tidak perlu. Mengingat penampilanku yang lusuh habis. Kemudian, ada lagi! Aku diundang oleh anak-anak UI sebagai pembicara. Lokasinya di Pusat Studi Jepang. Aku kucluk-kucluk datang dengan ojek. Masih kepagian agaknya. Tapi aku sudah terbiasa demikian. Lebih baik datang awal daripada terlambat. Waktu itu aku masih jarang diundang ke UI. Jadi masih dianggap asinglah. Kalau sekarang, kayaknya sudah mulai kenal, saking seringnya...alhamdulillah... Nah, aku turun pas di depan PSJ. Ada seorang mahasiswi mucnul. jadi aku bertanya dengan sopan. "Assalamualaikum...maaf dek, mau tanya...." Tapi sebelum tuntas kalimatku, dia sudah menukas. "Maaf, ya Mbak. Tanya temanku saja, yah. Ini mau jemput pembicara Ibu Pipiet Senja...." Dia melintas, begitu dekat denganku. Sehingga aku bisa mencium aroma "kemahasiswiannya" eh, aura kepanitiannya. Hehe. Dia ngeloyor terus, entah mencari spa tuh... Sementara aku langsung masuk, mencari seseorang yang bisa kutanya. Kulihat ruangan auditorium itu masih lowong. Lah, iyalah, namanya juga masih 1 jam lagi! Ada beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang sibuk memasang backdrop. Kulihat ada kotak-kotak aqua yang menghalangi jalan. Mungkin baru tiba diantar. "Maaf, Dek...." Dia pun menukas kalimatku: "Woooi.... Mpok! Jangan ngalangin jalan dong! Kita lagi sibuk nih!" "Iya, sekalian tuh tolong diangkat kotak aquanya!" Aku tertegun. Kemudian aku menyadari. Oh, agaknya mereka mengira daku ini si Mpok-mpok jualan gado-gado, barangkali ya.... Ya wis, dengan susah-payah kudorong-dorong kotak aqua. Yang penting tidak menghalangi jalanan. Setelah itu, sambil bercucuran keringat, aku pun mencari tempat duduk di belakang sekali. Duduk diam-diam, mulai buka buku harian dan menulis; peristiwa hari ini! Dianggap TKW, dikira tukang gado-gado, disangka babu cuci malah pernah juga dicurigai debtcolector. Huahaha! Apakah daku merasa dilecehkan? Gaklah! Wong, biasa sajalah. Emang sampai melukai wajah gitu? Daku malah jadi instrospeksi diri. Mengapa bisa demikian? Yang jelas, karena penampilanku, busanaku yang mendukung sebagai TKW, babu cuci, tukang jualan en soon itu. Nah, salah siapa? Salah sendirilah! Emang salah yang dibui, apa, coba? Ini kutulis sekadar intermezzo. Mulai menjelang petang, hujan masih gerimis di kawasan kantorku. Alooow.... apa kabar saudara-saudaraku tercinta? Mau berbagi kisah inspirasi denganku? Silakan, ungkapkan dikolom komentar di bawah ini. Terima kasih. Salam manis dan bahagia Teteh Pipiet Senja Editor | Aditokoh | January 25th, 2009 Jika Anda adalah penulis pemula, mungkin Anda akan “merinding” melihat data produktivitas seorang Pipiet Senja. Tahun 1978-1985, ia menerbitkan 12 novel populer. Lalu, tahun 1991-2006, ia meluncurkan 28 buku anak. Kemudian, tahun 2001-2008, ia berhasil menerbitkan 33 novel islami! Dan, sepanjang 1983-2008, ia juga menerbitkan 23 antologi puisi bersama. Total, sekurang-kurangnya Pipiet sudah menghasilkan 96 buku dalam waktu 30 tahun terakhir. Dan, itu semua belum termasuk ratusan cerpen serta puluhan novel bahasa Sunda yang tak terdata semua judulnya. Apa komentar yang tepat untuk prestasi tersebut? Fantastik… Dahsyat… Luar biasa! Sebuah kombinasi yang kokoh antara kreativitas, imajinasi yang kaya, dedikasi pada profesi, dan motivasi diri yang tak terbendung. Tetapi, yang juga menambah bobot “keelokan” seorang Pipiet adalah bahwa ia menuliskan karya-karya tersebut dalam belenggu penyakit thallasemia. Penyakit kelainan darah sejak lahir semacam ini suka memutus-mutus tali asa penderitanya. Tetapi, belenggu thallasemia justru memacu kreasi dan prestasi penulis fiksi islami ini. Produktivitasnya seolah tak tertandingi oleh penulis-penulis yang lain. Pipiet Senja dikenal dengan karya-karya seperti Lukisan Rembulan, Menggapai Kasih-Mu, namaku May Sarah, Tembang Lara, Rembulan Sepasi, Meretas Ungu, atau kapas-kapas di Langit yang jadi novel bestseller itu. dan, oleh Ahmadun Yosi Herfanda, seorang jurnalis dan penyair, perempuan bernama asli Etty Hadiwati Arief kelahiran 16 Mei 1957 di Sumedang, Jawa Barat, ini disebut sebagai Sang Ikon Fiksi Indonesia. Sudah lebih dari 30 tahun berkiprah di dunia kepenulisan, Pipiet belum juga surut berkarya. Di usianya yang sudah lebih dari setengah abad, ia malah makin tertantang untuk berpacu karya dengan penulis yang masih muda-muda. Selain itu, dari dulu hingga sekarang, ia terus berbagi pengalaman dan ilmu dengan menularkan virus gemar menulis ke semua kalangan. Satu hal yang mendorong dia melakukan hal itu adalah sebuah visi; “Saya ingin banyak generasi muda, terutama kaum perempuan yang menjadi penulis.” Pertengahan januari 2009 lalu, dalam sebuah wawancara melalui email dengan Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com, Pipiet Senja menegaskan, supaya kita tidak takut hilang “jatah rezeki” hanya karena berbagi. Berikut petikan wawancaranya: Sebagai aktivis Forum Lingkar Pena (FLP), bisa Anda gambarkan bagaimana perkembangan terakhir organisasi kepenulisan tersebut? Semakin bagus, semakin pesat secara karya, baik yang di daerah di Indonesia maupun yang di mancanegara. Meskipun secara organisasi agak keteteran, terutama yang di daerah. Perlu disemangati, dimotivasi selalu para kadernya, terutama untuk menumbuhkembangkan para penulis pemula menjadi eksis! Anda disebut-sebut sebagai salah satu sastrawati yang memberikan corak atau warna islami dalam setiap karya Anda. Sesungguhnya, corak atau warna islami itu tadi seperti apa gambarannya? Intinya, yang sastra islami itu, antara lain tak ada unsur ngeseks. Kalaupun ada, biasanya kita mengambil simbol-simbol. Baik melalui simbol alam maupun rasa bahasa yang terselubung. Atau, bahasa yang puitis. Karya islami ditujukan untuk menginspirasi, mencerahkan umat. Dengan karya yang lebih dari 80 buku, sebenarnya bagaimana cara Anda menggali tema-tema tulisan? Temanya beragam, mulai dari tema untuk anak-anak batita, balita, ABG, remaja, sampai lansia. Menggali ide, mungkin ya? Ide jika sudah ada tinggal kita siapkan segala perlengkapannya. Umpamanya, kalau perlu survei ke suatu tempat, kita lakoni. Kalau tidak bisa, kita bisa browsing-an dan chatting-an. Umpamanya untuk mem-plot setting atau “penglataran” luar negeri, atau tempat yang masih asing bagi kita. Dari semua karya, mana yang sangat menguras emosi, daya tahan, dan daya kreatif Anda? Meretas Ungu (Gema Insani Press), Kupenuhi Janji (Duha Publishing), Kapas-kapas di Langit (Zikrul Hakim), Dalam Semesta Cinta (Jendela), Jejak Cinta Sevilla (Jendela), dan Cinta dalam Sujudku (Luxima Publishing). Kalau karya yang Anda anggap monumental? Kapas-kapas di Langit dan Tuhan Jangan Tinggalkan Aku. Bagaimana cara Anda mempertahankan ‘daya tahan’ untuk tetap produktif? Sering mencermati karya terbaru, baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Jadi, saya selalu tergerak untuk terus berkarya. Merasa tertantang untuk tetap eksis di khazanah kepenulisan. Lagi pula, memang inilah duni saya, profesi saya, sumber mata pencaharian saya. Ya, terus saja daku berkarya, sampai ajal menjemput…. Anda tidak kuatir ada duplikasi tema atau ide dalam karya-karya Anda? Tidaklah. Karena saya yakin, setiap penulis selalu memiliki ciri khasnya tersendiri. Tidak mungkin karya kita bisa diduplikat secara persis! Sebenarnya, apa yang membanggakan dari profesi sebagai penulis itu? Lebih dekat ke masyarakat luas, hehehe…. Nama kalau sudah dikenal kan banyak yang menyapa? Ini membuat saya (punya) banyak saudara di mana-mana. Banyak mengalir rezeki jika saya dalam kemalangan. Terima kasih, ya Allah, dan para penggemar saya, terima kasih! Kalau ditanya, Anda itu hidup untuk menulis, atau menulis untuk hidup, jawabannya? Insya Allah, saya hidup untuk menjalankan perintah Allah. Menulis hanya sekadar sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup, kebutuhan batin juga. Hanya salah satu sarana! Tidak lebih! Ketika Anda menulis, “Mosok ada penulis bisa naik haji dari bukunya?” Sesungguhnya, apa yang ada di benak Anda terkait dengan profesi sebagai penulis dengan kesejahteraan hidup? Alhamdulillah, saya termasuk yang berangkat umroh dan haji memang karena saya seorang penulis. Ada seorang penggemar, kebetulan teman di pengajian yang begitu empati dan suka sekali dengan karya-karya saya. Melalui adik inilah saya diajak umroh, kemudian dihajikan secara gratis. Subhanallah, alhamdulillah…. Hanya Allah Swt yang bisa membalas budi baiknya. Ketika, akhirnya, Anda bisa naik haji berkat tulisan, apa pendapat Anda? Tiada mampu berkata-kata untuk waktu lama sekali, seperti mimpi laiknya. Namun, intinya adalah bahwa melalui lahan profesi apa pun, kita bisa saja naik haji. Jika Allah sudah berkenan, mana lagi yang tiada mungkin? Tak sedikit orang, bahkan sebagian di antaranya penulis, yang memandang bahwa imposible banget hidup dari hanya menulis. Pandangan Anda? Tergantung siapa yang menjadi penulisnya, barangkali. Kalau gaya hidupnya memang hura-hura dan amburadul, yah, dari pekerjaan apa pun bisa imaging! Saya pribadi memang hidup ini, maksud saya makan dan nafkah saya, selain atas izin Allah Swt, Dia pun telah memberkahi saya sesuatu, yakni menulis! Apa idealisme Anda sehingga mau melanglang buana dan sangat gencar menyebarkan ‘virus gemar menulis’? Saya ingin banyak generasi muda, terutama kaum perempuan yang menjadi penulis. Saya tak pernah takut menularkan virus menulis ini, khawatir diambil jatah rezeki saya umpamanya, tidak! Allah sudah mengatur semuanya untuk kita. Maka, berbagilah dengan siapa pun. Anda juga menyemaikan ‘virus gemar menulis’ itu ke lingkungan keluarga sendiri. Ini lebih sulit atau lebih mudah? Kalau kepada anak-anak, sama sekali tidak sulit. Bahkan, sesungguhnya tanpa diajak-ajak pun; Butet (Adzimattinur Siregar) dan Abang (Haekal Siregar) sudah ngebet duluan berkarya. Mereka melihat contoh dari ibunya, barangkali pikir mereka; “Kok si Mama tanpa keluar rumah pun punya duit banyak, ya?” Hihihi.… Penulis-penulis baru akan terus bertumbuh, dan Anda adalah salah satu yang berperan dalam menginspirasi dan melahirkan mereka. Lalu, di mana Anda menempatkan diri dalam gelombang kemunculan penulis-penulis baru tersebut? Bukan saya yang menempatkan diri, tetapi masyarakatlah atau kalangan komunitas sastra biasanya yang melakukan hal demikian. Aduh, teteh mah hepi-hepi sajaaah! Senang banget atuh banyak penulis baru di Tanah Air. Luar biasa memang pesatnya! Hal apa lagi yang ingin Anda raih dari aktivitas menulis ke depan? Pertama, ingin mengangkat karya-karya islami, bukan cuma karya saya sendiri, ke dunia layar lebar dan pertelevisian. Kedua, ingin memiliki rumah baca untuk anak-anak miskin di sekitar rumah saya. Masih banyak anak yang tak mampu untuk sekolah, dan perempuan yang buta huruf. Ketiga, ingin lebih banyak menulis buku untuk anak-anak dan lansia. Terakhir, kita semua hanya “mampir ngombe” di dunia ini. Kalau masa “mampir ngombe” itu sudah habis, Anda ingin dikenang sebagai penulis yang seperti apa? Insya Allah, saya hanya ingin dikenang sebagai umat yang ikhlas, tawadu, dan istiqomah saja di mata Allah. Amin, ya Robbal alamin.[ez] Terima kasih ya dari pipiet senja
VN:F [1.0.9_379] wahai, saudara-saudariku di mana pun anda berada saat ini semua mata terbelalak nyalang dan terarah ke sana bumi palestina jalur gaza
di sana sedang terjadi kekejaman tiada tara kekejian yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah manusia
apakah... kita hanya bisa melihat kita hanya bisa menonton melalui tayangan televisi sebuah bangsa dihancurkan?
israel semakin merajalela israel semakin kentara kezaliman dan kebiadababannya satu tujuan mereka; menghancurkan seluruh bangsa palestina!
ya Allah... dengarlah jerit-tangis anak palestina dengarlah ratap pilu ibu palestina dengarlah doa yang melangit mengawang dan hanya melayang-layang di udara yang penuh dengan bau mesiu aroma rudal nuansa nuklir
di sini, daku pun hanya mampu menjerit tangis dalam pedih dan luka tak tepermanai...
setiap subuh kulihat melalui layar televisi mayat-mayat bergelimpangan penuh darah yang digotong yang diangkut yang ditangisi ibu dan ayah anak-anak!
ibu-ibu dan wanita mereka memang mengincar penerus bangsa palestina ibu anak-anak agar bangsa palestina hancur hingga akar-akarnya
ya Allah... semoga saudara kita di palestina diberi kekuatan maha oleh Sang Maha Kekuatan
kita hanya bisa berdoa... kita hanya bisa berdoa... kita hanya bisa berdoa...
saudara-saudariku setanah air saurara-saudariku sebangsa indonesia;
mengapa kita hanya berdiam diri? mari, setidaknya kita berbuat sedikit saja, secuil saja... meskipun itu hanya sebuah naskah tetapi, yakinlah ini akan sangat bermakna karena kita akan mempersembahkan dengan ikhlas
untuk meringankan beban palestia sedikit saja, secuil saja
sudikah anda membuat kisah inspirasi tema jihad apakah itu berupa puisi, cerpen, kisah nyata ataupun kartun... mati! kita bukukan!
daku berencana menerbitkan buku inspirasi semua honornya kita berikan untuk palestina
bagaimana?
jika punya naskah dan berminat silakan kirim ke imel teteh ya pipiet_senja@yahoo.com penerbitjendela@yahoo.com
salam jihad dan istiqomah senantiasa teteh pipiet senja
Rabu, 24 Desember 2008
Kalau lagi bermain-main dengan cucuku si Zein, adakalanya aku merasa iba, terharu sekaligus geli. Bagaimana tidak? Ini cucuku usianya sudah 26 bulan tapi dia belum bisa bicara lancar, belum bisa mendiskripsikan sesuatu dengan jelas. Umpamanya berseru memanggilku; "Maaaaaaaa, Maaaaaaa!" Eeee, pas dia mau minta dibukakan pintu (mo ngabur, ini hobinya!) dia pun akan teriak; "Maaaaaaa! Maaaaa!" Mau makan dia teriak juga; "Mamam, hmmm, mamaaaam!" Mau minum susu dia akan teriak; "Naaaah....mimim, mamam, mimim!" Mau pipis dia cukup menunjukkan telunjuknya ke anunya atau akan memegangi anu kecilnya itu. Tapi sering pula dia sudah ngeloyor ke kamar mandi, buka celana sendiri dan pipis deh atau ee geto...
Duuuh, daku mulai miris dan gundah juga nih, rekans! Ini sudah telat bicara, demikian aku menyimpulkan. Dua anakku dan adik-adikku dulu, banyak kucermati mereka rata-rata bisa ngomong ketika 9 bulan. Butet dan abangnya bahkan sudah bisa membaca keyoika 2,5 tahun, masuk TK 3 tahun, SD 4 tahun, makanya ketika jadi mahasiswa baru 16 tahun.
Ada yang bisa sharing dan memberiku petunjuk tentang hal ini? Ayooook.... tolong teteh ya, pliiissss.... Aku sudah gemes juga mau bawa cucuku ke dokter tumbuh kembang anak, mungkin diterapi, seperti kata teman-teman yang juga anaknya telat ngomong. Cuma ibu-bapaknya keberatan. Seli bilang, takutnya malah bikin anak jadi setres. Haekal bilang, Einsten pun telat ngomong sampai usia 4 tahun?
Aku sampai memohon dengan sangat kepada teman-teman yang sedang berhaji, agar ikhlas mendoakan cucuku Zein ini, supaya cepat berceloteh.
Kalau tentang kemandirian dan kecerdasannya, Zein termasuk anak yang mandiri. Buktinya sudah bisa sepeda keliling kampung dan dorong-dorong sendiri. Sering minggat dari rumahnya menuju ke rumahku yang lumayan jauh dan berkelok-kelok gang. Dia juga sayang banget kepada adiknya si Zia, suka disuapin, meskipun kalau lagi bangor, dia gelinding-gelindingkan mobilannya di kepala atau punggung adiknya. Hihi.
Zein juga suka banget menggambar mobilan, karena dia terobsesi dengan mobil-mobilan. Mewarnai gambar dan sudah bisa menunjukkan huruf; A I U E O, hanya itu...
Mohon doanya ya rekans... Untuk cucuku Zein. Chao!
Kamis, 11 Desember 2008
Hari ini, daku sungguh lemes, dinihari sudah bangun, tapi tertidur lagi saking lemes dan tak enak badan. Tapi aku harus pergi, setidaknya harus nongol di kantor, karena kemarin sudah tidak masuk.Ada janji pula dengan anak-anak magang dari UNJ, anak buahnya HTR.
Dan yang terpenting, aku memang harus pergi untuk mencari dana. Sudah saatnya ditransfusi, ini sudah lewat dua minggu. Terpaksa ditunda-tunda terus, mengingat dananya belum ada. Simpananku habis, halaaas....bulan yang lalu terlalu banyak yang harus kudanai.
Sampai di kantor pukul tengah sembilan, sudah banyak orang, tapi tak kulihat bos. Kubuka kompinya Kokonata yang tidak masuk hari ini. Iseng-iseng YM-an dengan teman-teman di Mesir, Hongkong dan sebagainya. Sementara perut keroncongan, karena sejak sore tidak makan lagi. Bukan karena tak ada makanan, tapi lebih disebabkan perutku menolak; banyak gule kambing!
Tiba-tiba muncul satu nama; Shintaalifa dari Jepang. Pernah beberapa kali kontak YM-an, tapi tak begitu sering.
Kusapa dinda dari Negeri Jepun ini karena kepingin meluaskan silaturahmi belaka. Inilah sebagian isi chattingan kami.
pipiet: alooow....dinda sekarang di mana nih? shintalifa: baik teh,masih di negeri Jepun sebentar yah saya sholat asyar dulu nanti disambung silakan saja tulis...
shintalifa: udah teh shalatnya pipiet: alhamdulillah shintalifa: ada yg bisa saya bantu teh? pipiet: doakan teteh yah...ini lagi ngedrop darahnya lemeeees shintalifa: hiks! hrs transfusi ya teh? teteh ada uang? pipiet: iya dek hb ku tinggal 5,1 nih shintalifa: hrsnya 8-9 ya? shintalifa: trus skrg gpp teh chat? pipiet: iya nih lagi cari dana dik pipiet: hb yang normal utk wanita 12 shintalifa: seali transfusi berapa teh? pipiet: harus pegang 1,5 jt untuk obat desferal shintalifa: wah... pipiet: itupun setelah aku wara wiri minta diskon pipiet: askes cuma bayarin yah itu separonya aja pipiet: sisanya harus ditanggung pasien shintalifa: skrg teteh ada uang brp? pipiet: waduuuh...malu nih, kan bulan yal ibuku sakit parah pipiet: jadi semua tabunganku habis kualokasikan pipiet: skrg utk diriku sendiri harus nyari pipiet: buat makan sehari hari saja, pusiiing, hihi pipiet: doakan ya dek...doakan pipiet: daku numpang di kompi teman nih pipiet: nunggu bos datang apa gak...mo pinjam dulu barangkali shintalifa: waaah... shintalifa: tadi pagi tersirat di hati saya, pengen infaq ke org yg benar2 membutuhkan pipiet: waaah shintalifa: subahanallaahh, Allah menunjukkan teh pipiet disini pipiet: subhanallah.... shintalifa: tp sy ga sebesar itu infaqnya teh, afwan shintalifa: hanya bisa sekitar 500 rb rp pipiet: ya Allah...subhanallah shintalifa: iya ya, saya sampe merinding plus terharu dg "perjumpaan" kita pipiet: subhanallah....sampai meremang pula nih saking terharu pipiet: benaaar shintalifa: teteh tulis no rek.nya disini ya shintalifa: iya teh shintalifa: eh kelebihan ya nangisnya, biar teteh ga terlalau sedih, sedikit hiburan pipiet: aduh, sungguh nih? shintalifa: iya pipiet: jadi malu sekaligus terharu nian shintalifa: insAllah bisa cepet, hari ini jg mdh2an nyampe shintalifa: iya teh, padahal kita jarang banget ya ngobrol pipiet: BCA Depok an.ETTY HADIWATI 7650311811 shintalifa: pas tadi teteh menyapaku dg icon, sy sdh lgsg tersenyum nyambung kesana feelingku pipiet: sungguh Allah itu Maha Kasih yah... pipiet: ketika tadi teteh sholat zuhur di kantor ini di sudut sana shintalifa: makanya lgsg nanya perlu brp, hihi krn udah ngerasa deket jg, udah aku anggap teteh dekeeeet.... pipiet: menitik airmataku, aduh, saking bingung shintalifa: dan yg paling terasa petunjuk Allah-nya itu lho.... pipiet: mo pulang bagaimana hanya dengan uang tinggal 10 rb shintalifa: sy telp dulu ke bdg ya utk meneruskan transfer dr sini pipiet: subhanallah...terima kasih sekali ya dinda shintalifa: sebentar lg hrs jemput anak2, khawatir lupa shintalifa: sama2 teh pipiet: semoga Allah Swt melipatkan rezekimu pipiet: dan berkah senantiasa setiap langkahmu shintalifa: aamiin....aamiin....gapapa teh sy sdh senang dg petunjuk Allahnya juga pipiet: amin ya Robb pipiet: sampai jumpa ya dinda pipiet: mohon alamat adik yang di bandung, teteh kepingin mengirimkan buku2 terbaruku pipiet: salam cinta dan doa selalu dari teteh dan anak-anak shintalifa: subhanallaah...makasih bnyk teh shintalifa: oiya sy hub. teman2 bi\oleh teh? shintalifa: mdh2an jd bisa mencukup 1.5 juta pipiet: saya yang berterima kasih dinda, semoga kita bisa jumpa suatu hari nanti shintalifa: aamiin pipiet: oh, ya Robb...sialakan saja dek pipiet: ini ternyata bos yang kunanti tidak datang pula... shintalifa: alamat saya di bdg via bibi, Tina Sugiharto pipiet: yah, memang rezekiku agaknya shintalifa: Jl. Cibunut no. 17 Bdg, telp 022-4201645 pipiet: dari negeri jepun shintalifa: shintalifa: iya teh kebetulan ada bbrp teman yg kayaknya sedang mau infaq juga pipiet: alhamdulillah... pipiet: sekali lagi terima kasih banyak, semoga Allah memberkahi dirimu pipiet: yang telah menjadi penyelamat nyawaku, kali ini shintalifa: teh alhamdulillaah shintalifa: dapet 13000yen shintalifa: MasyaAllah pas sekitar 1.5juta pipiet: subhanallah... shintalifa: Allahu Akbar pipiet: Maha Besar.... pipiet: sungguh mulia dan indah hati saudara-saudara kita pipiet: dimanapun berada, ya Allah...Allahu Akbar! shintalifa: iya Teh..aamiin shintalifa: insyaAllah mau diadakan pengumpulan dana lagi, buat teteh shintalifa: nanti sy kabari klo ada lagi ya teh pipiet: ya Allah...terima kasih banyak ya dinda, terimakasih pipiet: ini menetes terus airmataku dibuatnya pipiet: sayang tak ada kamera di sini shintalifa: shintalifa: Allah yang membalas semua amal teteh shintalifa: saya mah hanya perantara saja teh pipiet: Pssst, gpp yah daku curhatan begini... shintalifa: alhamdulillaah sdh sy hubungi ke bdg shintalifa: gapapa teh shintalifa: saya udah ngerasa deket aja kok sama teteh shintalifa: isnya Allah dlm 1jam teh bisa cek ke BCA pipiet: alhamdulillah shintalifa: mdh2an klo lancar udah masuk uangnya pipiet: oh, sungguh....ini kejutan idul adha agaknya shintalifa: sok teh curhat lagi, saya seneng krn bisa menambah rasa syukur atas nikmat sehat yg allah berikan padaku shintalifa: iya ya pipiet: besok teteh jadi ditransfusi diantar butet shintalifa: itulah kalau Allah berkehendak shintalifa: saya jg tdk menyangka selancara ini shintalifa: iya teh mangga shintalifa: Butet skrg gm kabarnya? smakin produktif ya Teh, alhamdulillaah pipiet: butet lagi sibuk mau UAS, fakultas hukum UI
Dan, hubungan terputus karena daku harus pulang. Maka, kepada dindaku nun di negeri sakura sana, Alhamdulillah. Semoga rezekimu berlipat-lipat, doaku dari Depok.
Salam Cinta dan Doa Pipiet Senja

belakangan ini daku mulai meluangkan waktu khusus untuk mencermati sinetron di layar televisi maksudku, aku hanya ingin tahu seberapa parahkah...
ternyata memang sangat parah, saudara! ini, kuberi contoh; sinetron yang memakai label religi seperti ta'aruf, jihan, muslimah
kalau dicermati sesungguhnya banyak sekali adegan dan tingkah laku yang sangat tidak islami
umpamanya ta'aruf yang dibintangi; (sori, aku gak cermati namanya) ada syahrul gunawan ceritanya di awal dia ini menikah paksa demi orangtua dengan akhwat yang akhwat banget karena mengenakan busana serba hitam lengkap dengan cadar hitam nah, di tengah pernikahan tahu-tahu dia jatuh cinta kepada istrinya dan nyaris melupakan kekasih gelap atau selingkuhannya
tapi, yang anehnya adalah; si sakinah akhwat banget ini kemudian menyilakan suaminya poligami dengan selingkuhannya itu nah, betapa banyak kejahatan yang dilakukan si febi, istri muda terhadap sakinah
yang menyebalkan atau bagiku pribadi setiap kali sakinah berdoa langsung memohon pertolongan kpd Allah eee...selalu saja dia dihajar bleh, dicelakai oleh si febi si siska dan lainnya demikian pula dalam jihan dan muslimah setiap kali mereka berdoa dungguh malah dicelakai, dizalim
mulai dari ditabrak, diceburkan ke sungai diculik, dijebloskan ke rumah sakit jiwa diculik dan dijebloskan ke penjara atau ke rumah pelacuran walaaaah....komunis banget deh, aaarggh!
penulis skenario sekan-akan ingin menekankan bahwa intinya; doa itu sungguh tak berguna! tak ada Allah yang mendengarkan apalagi mengabulkan doa perempuan salehah
nah, aku jadi berpikir; bagaiman adegan seperti ini jika dilihat oleh mereka yang gamang agamanya? tentu akan berakibat fatal ngapain berdoa panjang lebar berdoa berbusa-busa kalau setiap doa malah membuahkan malapetaka?
meskipun sinetron dan ditulis oleh penulis yang menurutku; (maaf banget) tak paham makna islam alias bego dan asal comot begitu saja ayat-ayat dijadikan tempelan belaka...
ya Allah...tega amat yah merusak akidah islam begini?
akhirnya, daku bisa menyimpulkan bahwa ini sinetron terkejam yang pernah kulihat!
bahkan di zaman telenovela yang katolik or kristen banget itu tidak ada adegan yang terlalu kejam dikit-dikit gapol, dikit-dikit tabrak dikit-dikit ngejambak jilbab sehingga jilbab lepas dan rambut terurai indah...walaaaah
telenovela kristen saja masih ada bagus-bagusnya setidaknya tidak menyiksa anak-anak yatim umpamanya menyiksa dalam arti yang kejaaaaaaam seperti dalam sinetron jihan yang selalu diawali dengan teriakan-teriakan yang bisa bikin kepala sakit
atau sinetron muslimah ini tema poligami yang jahat di sini istri tua yang sangat baik bahkan bego sekali adalah muslimah istri muda yang selalu dizalimi
terus dalam sinetron muslimah ada bayi bermata tiga mirip dajal yah? setahuku yang gak gaul begini, belum pernah kutemukan bayi bermata tiga kecuali dalam film-film barat ada sosok bermata tiga itu adalah iblis alias dajal!
tapi dalam sinetron muslimah bayi mata tiga ini sakti kadang bisa menumbuhkan angin puting beliung menghajar ibu kandungnya sendiri yang kejam itu walaaah, walaaaah... ada air mata menetes di pipi-pipinya berhurufkan; Allah...dalam huruf arab yah pokoknya banyak lagi yang gak masuk akal sama sekali alias nonsen, bulshit, sungguh pembodohan besar-besaran!
daku jadi bertanya-tanya apa konsepnya apa tujuannya, sesungguhnya dari para penulis skenario ketiga sinetron terkejam itu? hanya ingin cari duit cari populer
dan mengapa, kita kok masih diam saja ya...
alooow....KPI, komisi penyiaran indonesia mana suara anda apakah anda semua di sana semoat mencermati tayangan begini?
sebentar, ya... jihan lewat muncul larasati gelagatnya sudah bisa ditebak sinetron ini menjual airmata, kekejaman cinta yang dipertuhankan kebencian dan dendam tak sudah persis seperti sinetron jihan dan produk gentabuana lainnya yang selalu disiarkan oleh indosiar
tadi malam aku melotot dan membawa cucuku buru-buru menjauhi televisi karena ada adegan di kolam renang dua orang lelaki perempuan bukan muhrim alias ibu tiri dengan anak tiri melakukan adegan memberi napas buatan di kolam renang lengkap dengan baju renang yang aduhaaaaaay!
terus ada pula adegan larasati sedang mandi di bath tub kemudian dicium oleh suaminya meskipun mereka suami-istri di sinetron tsb tapi adegan ini sungguh....biru bangeeeet!
duhai, di manakah kesaktiannya UU Pornografi? realisasinya bukankah sudah capek-capek bikin tuh undang-undang pasti dengan dana yang tak sedikit hebohan pula didemo-unjuk rasa sekarang bagaimana kenyataannya?
percuma rasanya, ah daku pake ikutan repot segala dalam mengkampanyekan dukung UU Pornografi sampai-sampai karena itu pula ponselku malah diteror dikirimi mms porno virus jahat yang bisa masuk langsung ke mailbox kemudian mengirimkannya ke nomer-nomer secara acak yang ada di ponsel kita... dahsyaaat!
sekian dulu yah sekedar curhatan dari seorang nini-nini yang miris dan prihatin dengan dunia pesinetronan indonesia
salam manis pipiet senja  ini cerita paling kacow sekaligus lucu buatku sepanjang bulan ramadhan ceritanya sudah beberapa bulan ini aku mengira seseorang namanya rara gendis tuh aku udah lama kenal nama ini seniorku mbak yvonne de fretes sering memujinya terus, kami beberapa kali cetingan dengan bayangan di otakku bahwa yang sedang ceting tsb adalah sosok gadis imut2 yang sering kujumpa di pds/tim tahu2 pas hari kedua lebaran tiba2 kulihat namanya online jadi aku masuk kami pun ngobrol ngalor-ngidul beneran, kusangka dia adalah sosok itu ternyata bukan, men! dia ini memang bernama sama tapi bukan seperti yang kubayangkan padahal; kuanggap dia ini seorang cewek imut2 kenyataannya beliau seorang penyair cewek yang sudah tak asing lagi di khazanah kesusastraan indonesia sekarang sedang dolanan di swedia diundang launching buku, klo gak salah duuuh...beneran, kacoooow bikin malu aja nih dasar yah daku sudah nenek-nenek sori, dinda, soriii sekalian met lebaran ah juga untuk semua kontak mp teteh selamat idul fitri maafkan lahir batin atas semua khilafku baik melalui tulisan maupun lisan... teteh lagi mesem-mesem tengah malam Subuh tadi, saat daku lagi asyik saja ngetik di laptop, di atas tempat tidur, sesekali mataku menyeling ke arah layar televisi. Metro sedang siaran berita, tiba-tiba...bak-buk, baaakk-buuuk... Seorang pelajar putri menghajar temannya, dia berada di posisi menindih lawannya sambil terus menerus menghantam, meninju, memukul... Geng Nero! "Mama ketinggalan, itu udah seminggu kali beritanya," komentar putriku Butet waktu kusampaikan kekagetanku melihat kekerasan itu. "Iya ya... Mama kan jarang-jarang liat tipi..." "Makanya, jangan ngetik mulu!" "Iiih, semoga Butet jangan pernah menjadi pelaku atau korban kekerasan teman putrimu, ya." "Gaklah... mana ada yang begituan di kampusku, palingan juga... Pssst, tauk gak Ma, temen Butet kemarin cerita yang mengerikan." "Apaan tuh?" "Ini tentang freesex!" "Haaaa?!" "Iya, temen Butet cerita, dia memergoki teman sekamarnya lagi melakukan oral sex dengan cowoknya!" "Astaghfirullahal adziiim... sudaaah, sudaaaah! Jangan dilanjutkan!" Aku buru-buru menutup kuping, menyingkirkan sisa sarapanku. Perut mendadak mual hebat. Hueeeek! Ya Allahu Rabb, ada apa dengan anak-anak negeriku ini? alooow...rekans... tolong kirimkan alamat lengkap anda para penulis buku curhatan suami-istri. Persembahan Cinta 1. Rosita Sihombing atau Sikrit 2. Jazimah Al Muhyi 3. Dini dan Rudi Wicaksono 4. Viki Vidia dan Arief Zidan 5. Zamzam Muharamsyah 6. Devita - Kutai 7. Ifa Avianti alamat lengkap dan no rekening ya... wassalam teteh pipiet senja bisa juga disms aja ke 08128971410 1. Angin-anginan; betapa sering aku mendengar kalimat; “Gak mood…. aaaarrrggggh!” 2. Gampang menyerah; baru ditolak sekali-dua oleh majalah atau koran, kontan menarik diri, ogah menulis lagi. 3. Selalu punya alasan untuk bilang; gak bisa menulis, ah! Gak ada komputernya, ah! Gak ada waktunya, ah! Gak, gak, dan gaaaak bangeeeettt… buanyaaak! 4. Terlalu cepat berpuas diri; baru menerbitkan satu cerpen di buku keroyokan, eee… sudah petentengan dengan komunikator, ponsel N-seri… (Ehem, lagaknya macam seleb aza tuh!) 5. Malas membaca; atau baru mau beli sebuah buku kalau sudah rame, hebohan, dibicarakan di milis-milis dan forum-forum. 6. Malas membuka diri; ogah bergaul dengan komunitas penulis. 7. Menulis sambil mengedit; ini sungguh fatal akibatnya, baru sebaris, dua baris, satu paragraf dua paragraf diediting sendiri, merasa tak puas langsung dihapus! 8. Belum apa-apa sudah mematok harga; berapa honor satu cerpen, cerbung, novelet atau novel? 9. Cerewet; terus saja menanyai editor tentang karyanya yang baru dikirimkan. Sehingga editor hampir tak ada waktu sekadar untuk mencermatinya. Sesungguhnya masih banyak lagi kesalahan yang kerap dilakukan oleh penulis pemula. Tapi poin-poin di atas cukup mewakili, dan bisa membuka wawasan para penulis pemula untuk mengevaluasi diri. Semoga!
Selasa, 15 April 2008 Pagi sekali aku sudah jalan, pikiranku fokus untuk ditransfusi hari ini. Apapun yang terjadi, tekadku. Soalnya, pas solat subuh... begitu kelar berdoa dan aku menengadahkan kepala ke langit-langit kamar mendadak....zhiiieeeeeng....langit seolah berjumpalitan, tiba-tiba bruuuk... Semaput deh daku! Pasti takaran darahku (HB) sudah di bawah standar. Jumat dan Sabtu sebelumnya, aku dan Butet sudah mencoba 'jalan tol', artinya ditransfusi tetapi tidak melalui klinik hematologi, maunya biar praktis langsung saja di sebuah tempat, dan itu memang hanya bisa dilakukan di rumah sakit besar. Urusan transfusi begini ternyata hanya bisa dilakukan di rumah sakit besar. Klinik-klinik sekitar Depok tak ada yang mau menerimaku. takut daku mendadak mati 'kali yeeeh... hiiiiiksss... "Ada juga kelas VIP, Mom," lapor Butet saat aku di UGD Rumkit Polri. Dengan keyakinan, palingan 300 an, okelah...semalam, kataku. "Tauk gak, Mom... kita dimintain uang masuknya, uang jaminannya sebesar 3 jeti!" lapor Butet pula sambil tergopoh-gopoh dengan wajah memerah, cucuran keringatan. "Itu... duit yeeeh, Tet... tiga jeti itu..." komentarku kayak oon aja. Maklum, semakin sepuh kadang daku suka sering latah en keceplosan ngomong, kayak orang linglung en ikutan panik dengan kelakuan Butet. "Iiiih... si Mama ini, lah iyalah duit, duiiiiiiitttt! "Ya wis... cabut aja!" kataku memutuskan. Iyalah, kalaupun punya duit sebanyak itu, rasanya kok aku bakal menzalimi banyak orang. Untuk diriku aku bisa bertahan dan berdarah-darah menderita, demikian prinsip hidup yang selama ini kupegang. Tapi, bagaimana dengan anak-anak yang kutampung di Cimahi? Bagaimana kalau mendadak emakku sakit? Halaaaah...kasihanlah! Tabungan yang kumiliki sekadar ngepaaas...Jadi, memang harus bertahan, pikirku. Tapi pagi itu, Selasa, aku sudah berterkad; "Hari ini harus ditransfusi!" Biarlah di UGD RSCM. Benar saja, setelah untuk kesekian kalinya ditusuk sana-sini, periksa darah, dokter memutuskan; "HB Ibu tinggal 5 % gram, harus ditransfusi hari ini juga!" Dia membuatkan surat pengantar, intinya menitipkanku ke UGD untuk ditransfusi. Pukul satu siang, aku pun membawa formulir permintaan darah menuju PMI Pusat di jalan Kramat Raya."Bisa ditunggu gak nih, Mbak?" tanyaku kepada petugas cewek. "Bisa... sekitar 4 jam, ya Bu..." "Haaaa?! seruku dengan mulut nganga selebar-lebarnya. Mendingan juga nengokin kantor dululah, ada beberapa hal yang harus kuurus, gumamku sendiri.Dengan bajaj aku pun meluncur ke Rawamangun, sempat makan siang dulu dengan asistenku en anaknya yang masih berumur 3 tahun. "Teh, ini tiket ke Denpasar dan Surabaya untuk Sabtu sudah diurus," kata Tami. Memang ada acara di Bali tanggal 19 dan 20 April, dilanjutkan tanggal 20-21 April di Graha Pena, menjadi juri bareng Andrea Hirata (bener gak ya nulisnya?). "Oke, terimakasih...." kepalaku kembali keleyengan, tubuhku gemetaran, kepalaku oleng-oleng, mataku kunang-kunang semakin sering, lebih kuaaaaaattttt...halaaah, ini serius amat yah penyakit! "Biar diantar aja, yah teteh," kata Rosi. "Janganlah, bawa anak kecil pula... Banyak penyaakit!" Kali ini terpaksa aku dimasukkan ke taksi tarif murah menuju UGD RSCM. "Mama, darahnya sudah dapat," kata Butet yang datang langsung sepulang kuliah. "Ayok...kita urus ke dalam," ajakku. Seperti biasa, ternyata urusan di UGD selalu hebohan dan ribeeeeet! "Mana lembaran merahnya? Kita gak mau memasukkan darah ini klo gak ada lembaran merahnya! Belum tentu kan darahnya milik si Ibu," cerocos seorang suster bikin aku panik saja. Butet sampai wara-wiri antara UGD dengan Bank Darah, mencari lembaran merah...ndilalah...nyelip aku duduki di atas brankar...hoaaaaa! Nah, ceritanya transfusi mulai kulakoni, aku ditaruh di gang, karena di dalam penuuuuuuh! "Kayak gembel aja nih si Mama... kaciaaaan yeeeh," ledek Butet. "Biarin atuh, Tet, yang penting bisa ngedrakuli...Udahlah, kamu ke luar saja yah... Nti klo udah kelar mama miskol," usirku. Butet patuh keluar ruangan yang semakin padat manusia. Kebanyakan pasiennya satu, tapi yang mengantar semobilan gitulah. Mana pada ribut ngomongnya, walaaah... Anehnya, sungguh kunikmati aura begini, pemandangan yang langka kulihat ini. Maka, kurekam, kucermati setiap kelakuan manusia di sekitarku. tepat di seberang brankarku, seorang anak muda hilang akal, menggeloso saja di lantai dengan mulut menceracau...Konon, mabuk berat, teler... gara-gara patah hati? Tepat terhalangi oleh kaca jendela, seorang perempuan muda nyaris telanjang, ditutupi sehelai kain hijau pupus. Entah apa kasusnya, tak ada yang menunggui, gelisah terus. Kaki-kaki dan tangan diikat, kata suster suka ngamuk-ngamuk. Satu kantong baru selesai masuk saat tiba-tiba terdengar jeritan histeris dari kamar ujung. Kulihat seorang ibu muda 30 an, berkudung gaul, menangis dan meratap histeris. Suaminya baru saja game-ove....innalilahi... Butet muncul gopoh-gopoh, mendadak menciumi keningku. "Loooh... ada apa?" tanyaku keheranan. "Mmm... Butet baru tersadar, mungkin suatu saat mengalami seperti ibu-ibu itu. Ngeliat Mama uhuk-uhuk, teruz... heeekkkk aja... Gak ada napasnya lagi....hikkksss..." Butet bercucuran air mata, tapi aku malah geli sekali dengan pendeskripsiannya. Sambil menyusuti air matanya, Butet memelototiku. "Iiiih... nyokap gw ini yah... Malah ketawa-ketiwi....ibu yang uaneeeh... freak, aah, but cool..." "Eeeeh... itu judulnya buku Sakti Wibowo, tauuuk!" "Aduuuh, Mom, pliiis deh... pura-pura sakit aja, yah...udah, rebahan lagi, pliiis..." Begitu Butet keluar lagi, entah kenapa, seketika ada yang merejam dalam dadaku, menghantam dengan telak sekali.... langsung menusuk kalbuku, sungguh telaaak... Aku seketika berpikir, "Sepanjang hayatku selalu begini, merepotkan... Kalo bukan ibuku, adik-adikku...sekarang anakku... Ya Tuhan, sampai kapankah daku masih bisa bertahan?" Mohon doanya, ya teman-teman... Sekitar pukul sepuluh malam selesai sudah transfusiku. Kami pulang ke Depok, hampir tengah malam baru sampai di kamarku yang hening... Sulit memejamkan mata...aaah, aku malah ingin menulis, meskpun tangan bekas tusukan jarum terasa sakit, tapi momen ini...sungguh patut kuabadikan melalui tulisan. Salam manis Pipiet Senja
31 Maret 2008
Aloooow....saudara-saudariku yang berbahagia Akhirnya baru saja teteh dapatkan kontak MP teteh yang ke-1000 Namanya Fitri Juliani dari Nangroe Aceh Darusalam...
Silakan dinda Fitri, meghubungi teteh di; pipiet_senja@yahoo.com
ada bingkisan menarik untuk dinda, meskipun hanya berupa buku-buku karya teteh yang diterbitkan oleh penebit Zikrul Hakim karena sponsornya emang Zikrul Hakim
terimakasih ya untuk dinda dan terima kasih kepada rekan-rekan yang selalu setia ngalongokan teteh di sini, eeeh,,itu anjangsana artinya yah...
sampai jumpa di warta berikutnya (heuheu!)
tahu-tahu sudah hampir 1000 nih para pengunjung MP teteh daku pernah bilang begini ke butet "tet...mama mo ngasih bingkisan buku buat pengunjung ke-1000 mutiply pipiet senja..."
halaaah.... kita tunggu saja aaarrrggghhh...
salam bahagia dan cinta teteh pipiet senja
| |